infopertama.com – Federal Bureau of Investigation atau Biro Investigasi Federal milik Amerika yang populer disebut FBI bersama Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri membongkar jaringan penyedia perangkat peretas atau phishing tools di Kupang.
Disebutkan bahwa alat peretas yang diproduksi dan dijual lintas negara itu mampu menembus sistem keamanan berlapis atau Multi-Factor Authentication (MFA).
Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji menjelaskan bahwa kecanggihan alat tersebut ditemukan setelah penyidik mendata bahwa ada sekitar 34 ribu korban yang teridentifikasi sejak Januari 2023 sampai April 2024.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 ribu korban atau kurang lebih 50 persen terkonfirmasi mengalami peretasan, termasuk keberhasilan skrip dalam melewati mekanisme pengamanan berlapis atau multi-factor authentication,” kata Himawan dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Himawan mengungkap bahwa dua tersangka dalam kasus ini adalah GWL (24), seorang pria lulusan SMK Multimedia yang menjadi otak pembuat script ilegal secara autodidak.
“Tersangka GWL sejak tahun 2017 telah memproduksi dan melakukan penyempurnaan phishing tools sebelum menjual dan mendistribusikan di tahun 2018,” jelas Himawan.
Dalam melakukan penjualan tools, GWL membuat website wellstore.com pada 2018, well.store, dan well.shop pada 2020. Ketiga website ini terhubung dengan akun Telegram sebagai media komunikasi dan sarana pengiriman skrip kepada pembeli.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






