Antara Gaslighting dan Keteguhan Hati

Dalam rana keseharian, kisah-kisah gastlighting(er) dapat terjadi kapan dan di mana saja! Dalam kebersamaan, dalam perjumpaan dan dalam relasi! ‘Saat Anda dibuat tak PD, selalu rasa bersalah, tak nyaman, rasa direndahkan dan bingung, putus asa..dan seterusnya. Ini semua akibat permainan oknum yang manipulatif itu. Maka, berhati-hatilah!

Karena itulah…

Councelling, misalnya, menuntun agar seseorang sebaiknya ‘tentukan batasan-batasan yang jelas dan tepat dalam komunikasi.’ Katanya, “Anda mesti bersikap tegas (melawan) sekiranya dramatisasi penuh bohong mulai diuarkan demi menyasarmu sebagai orang yang dikuasai.” Dan diingatkan pula “Di hadapan orang-orang tertentu (si gastlight-er) itu, Anda tak akan pernah benar, dan akan terus dibuat tak nyaman.”

Bagaimana pun, di kefanaan ini, selalu saja bahwa irama hati dan suasana batin itu memang mesti juga teruji. Dalam iman, Rasul Petrus nasihatkan untuk ‘senantiasa berjaga-jaga dan berwaspada, sebab alam diabolik, si pelawanmu itu rajin bikin ronda demi mencari mangsanya. Siapa pun mesti teguh dalam iman’ (cf 1Ptr 5:8).

Akhirnya…

Tetapi sekiranya kita ‘aktif dan terlibat’ dalam perilaku gastlighting, tentu butuh perjuangan besar untuk melepaskannya. Memandang sesama dalam kacamata positif dan penuh harapan sepantasnya jadi motivasi unggul dalam relasi dan kebersamaan.

Adalah benar bahwa ada setiap orang punya sisi kurang dan tak hebatnya! Namun, tentu tak dibenarkan untuk kibarkan bendera manipulatif kita dengan memakai tiang kelemahan atau kekurangan sesama. Santo Thomas Aquino tentu benar! Pikirannya sekiranya ditangkap demikian, “Dalam rahmat dan rencana Tuhan, setiap orang selalu dalam proses menjadi dan terus menjadi! Untuk tak boleh dilihat hanya di sini dan cuma di saat-saat sekarang ini.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel