Akibat rasa diri tahu banyak dan kenal baik
Dalam keseharian, tentang seseorang yang masih tak dalam atau tipis-tipis dikenal, sekian banyak narasi diuarkan tentang orang itu. Sebab, lebih banyak diobralkan atau diboroskan pikiran, analisa, imajinasi atau interpretasi tentang orang itu. Kita sering ‘nyaring bunyi’ tentang orang itu sebagai tanda bahwa sebenarnya kita ‘tak dalam tentangnya.’ Mungkin saja kita keberatan dengan isi pernyataan ini! Ambil saja satu kisah praktis lainnya.
Sekiranya kita ‘rame-rame berbocor halus’ tentang seseorang betapa sebenarnya kita butuh banyak waktu untuk duduk berkumpul dan bersama. Saling mendukung dan bersepakat ide mengenai orang itu dalam dinamika ‘tambal sulam’ atau saja bahwa kita larut dalam arus deras ‘saling membenarkan yang menyesatkan.’
Bagaimana pun, dalam perjumpaan antar individu yang personal, tetap mesti ditatap dengan bijak dan semestinya apa yang kita sebut sebagai ‘kedaulatan pribadi’ itu. Siapa pun kita, di dalam kepribadian dan ekspresi dirinya, tentu miliki sisi ‘light and shadow’ (terang dan bayangnya).
Titik-titik kelebihan dan bocoran kekurangan
Setiap individu miliki alur hidup yang lebih, pun terdapat pula kurangnya. Atau ada kisah-kisah heroik pun terdapat cerita titik zero bahkan minusnya. Itulah bagian dari kisah diri yang indah serentak yang tak hebatnya. Namun, di dalam keremangan hidup toh selalu ada harapan untuk kembali menenun benang-benang kehidupan. Menjadi peziarah yang berpengharapan. Itulah pesan kehidupan bermakna dalam dan menyejukkan.
Walau gagal, terasa kecewa dan membebankan, ditatap dalam kehampaan atau nyaris tak jelas arah, toh ada momentum di mana bahwa orang mulai berbenah dan kembali menata isi kehidupan. Bumi tak selamanya diterjang kisah-kisah banjir bandang, gempa bumi, erupsi gunung berapi, angin taufan dan tsunami. Bumi, sediakalanya, baik adanya, ketika “angin, gunung dan ngarai bagai konser simfoni.” Yang sejukkan sukma.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



