Teror Gaslighting
Bagaimana pun, di saat menata isi dan jalan pikiran, ketika penuh perjuangan ciptakan kesunyian dan kedamaian dalam batin personal, seorang individu bisa dibenturkan dengan geliat gaslighting. Diktum psikologi rumuskan, itulah kenyataan dari “manipulasi psikologis yang dibuat seseorang agar korban meragukan dan menyalahkan dirinya sendiri.”
Perilaku gastlighting itu digencarkan oleh seseorang yang merasa berhak atas ‘kontrol hidup orang lain.’ Ia memakai pengetahuan atau pengenalannya akan sesama untuk berperan dominan yang tiran. Ia gencar mengkritik, mempersalahkan, merendahkan, berkomentar lepas yang menikam dengan suka-sukanya. Dan lagi, perilaku gastlighting bakal terus membantah. Ia berakal bulus nan manipulatif agar si korban kehilangan kepercayaan diri.
Perilaku gastlighting nampak dalam teror sikap dan penilaian bahwa orang lain tak berkembang dan tak miliki keunikan yang positif. Teror gastlighting jauh dari apresiasi sewajarnya. Tak ada rasa kekaguman yang lahir dari lubuk hati dan jiwanya.
Sebab, virus gastlighting telah penjarakannya untuk wajib, itu tadi, dalam hanya mengkritik, berkomentar yang merendahkan dengan sinisme yang tebal dan bahkan sakarstiknya. Si gastlighting-er merasa bahwa ia telah ‘tahu, kenal, sudah masuk dalam dunia sesama yang disasarnya.’
Manipulatif dan controlling
Namun, ini semuanya hanya sebatas tindak manipulatif untuk ‘mengontrol dan menguasai targetnya.’ Konkritnya, ia seolah-olah bersolider, misalnya, namun sebenarnya ia hanya bermanipulasi demi menyasar korban di titik lain. Iya, demi timbulkan satu rasa bersalah dan kurang nyaman dari yang disasar itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



