Oleh: Patris Alegro
infopertama.com – Film Pesta Babi bukan sekadar film dokumenter. Ia adalah jeritan yang diberi bentuk visual. Ia bukan hanya laporan tentang Papua, melainkan semacam luka terbuka yang dipasang di layar, supaya orang Indonesia tidak lagi pura-pura tidak tahu. Di sana ada hutan, tanah adat, perempuan, babi, sawit, proyek strategis nasional, aparat, negara, Gereja, dan salib. Semuanya masuk dalam satu drama besar: drama manusia yang sedang bertanya, “Kalau tanah adat kami hilang, kami mau hidup di mana?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia menghakimi seluruh jargon pembangunan yang terlalu sering berbicara dengan angka, peta konsesi, target pangan, bioenergi, dan kemandirian nasional, sambil lupa bahwa di bawah angka itu ada manusia yang punya nama, marga, leluhur, kuburan, sungai, rawa, pohon, dan ingatan.
Dalam diskusi Katolikana bersama pembuat film dan Komisi Justice and Peace Katolik, Pesta Babi dibaca sebagai amplifikasi dari “teriakan minta tolong” masyarakat adat Papua, bahkan dari bumi sendiri. Film ini ingin memperdengarkan suara yang lama ada, tetapi lama diabaikan. Di titik ini, film tersebut berhasil. Ia tidak membiarkan Papua tinggal sebagai statistik. Ia membuat Papua kembali menjadi wajah.
Namun justru karena film ini kuat secara moral, ia perlu dikritik secara serius. Kritik bukan untuk melemahkan kesaksian film, melainkan untuk membersihkannya dari kemungkinan simplifikasi. Sebab penderitaan yang benar pun bisa menjadi dangkal jika hanya diperlakukan sebagai bahan emosi. Air mata tanpa analisis akan cepat mengering. Kemarahan tanpa disiplin akan mudah menjadi kabut.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





