Papua Bukan Sekadar Korban, Melainkan Cermin
Kekuatan utama Pesta Babi terletak pada keberhasilannya menggeser cara pandang. Papua tidak ditampilkan hanya sebagai “daerah bermasalah”, tetapi sebagai tempat di mana krisis Indonesia menjadi telanjang. Di sana kelihatan bagaimana pembangunan bisa berubah menjadi perampasan; bagaimana negara bisa berbicara tentang kesejahteraan sambil mengabaikan orang yang paling dekat dengan tanah; bagaimana bahasa proyek bisa menindih bahasa adat.
Dalam perspektif filsafat politik, ini bukan sekadar konflik agraria. Ini adalah konflik ontologis: tentang siapa yang dianggap sungguh ada dalam tata kelola negara. Negara modern sering hanya mengakui manusia sejauh ia masuk dalam data, sertifikat, peta administrasi, izin usaha, atau dokumen kebijakan. Sementara masyarakat adat hidup dalam relasi: relasi dengan tanah, leluhur, hutan, air, hewan, dan komunitas. Bagi negara teknokratik, tanah adalah lahan. Bagi masyarakat adat, tanah adalah tubuh sejarah.
Di sinilah benturannya tajam. Modernitas birokratis melihat ruang sebagai objek pengelolaan. Kosmologi adat melihat ruang sebagai rumah kehidupan. Negara bertanya: “Berapa hektar yang bisa dioptimalkan?” Masyarakat adat bertanya: “Kalau ini hilang, kami menjadi siapa?”
Pertanyaan kedua jauh lebih dalam.
Bahaya Romantisasi Adat
Namun pembelaan terhadap masyarakat adat tidak boleh berubah menjadi romantisasi. Ini penting. Dalam banyak kritik ekologis, masyarakat adat sering digambarkan terlalu murni, terlalu suci, terlalu harmonis, seolah-olah tidak memiliki konflik internal, elite lokal, negosiasi kepentingan, atau perubahan sosial.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





