Ketika Salib Berdiri di Tanah Adat: Catatan Lanjut atas Film Pesta Babi

Maka ketika tanah dan hutan hilang, perempuan terkena pukulan pertama. Bukan dalam teori, tetapi dalam tubuh. Mereka harus berjalan lebih jauh, membeli lebih banyak, menanggung lebih berat, dan menjelaskan kepada anak-anak mengapa alam yang dahulu memberi makan kini berubah menjadi pagar, konsesi, atau sawit.

Namun di sini kita juga harus hati-hati. Perempuan Papua jangan hanya ditampilkan sebagai korban. Mereka bukan sekadar bahan air mata. Mereka adalah subjek pengetahuan, subjek politik, dan penjaga kosmologi ekologis. Mereka tidak hanya menangis; mereka mengetahui. Mereka tidak hanya kehilangan; mereka menilai. Mereka tidak hanya menderita; mereka melawan.

Kalau perempuan hanya dihadirkan sebagai ikon penderitaan, maka film dan diskusi publik bisa jatuh ke dalam konsumsi moral: kita menonton luka mereka, merasa tersentuh, lalu pulang sebagai orang baik-baik. Itu belum cukup. Yang dibutuhkan adalah pengakuan terhadap otoritas perempuan adat dalam menentukan masa depan tanah mereka.

Salib Merah: Ketika Iman Keluar dari Tembok Gereja

Lapisan paling kuat dari Pesta Babi adalah salib merah yang ditancapkan di tanah adat. Ini bukan detail visual biasa. Ini simbol teologis yang mengguncang.

Salib yang biasanya tergantung di dinding gereja kini berdiri di batas tanah yang terancam. Salib tidak lagi menjadi hiasan liturgis yang aman, tetapi tanda larangan, tanda iman, tanda adat, tanda perlawanan. Ia berdiri di antara masyarakat adat dan bulldozer. Ia berdiri di antara doa dan aparat. Ia berdiri di antara iman dan perampasan.

Secara teologis, ini sangat serius. Salib tidak boleh dijinakkan menjadi ornamen. Salib adalah tanda Allah yang berpihak kepada manusia yang disalibkan oleh sejarah. Ketika masyarakat adat menancapkan salib di tanahnya, mereka sedang berkata: “Tanah ini bukan hanya objek ekonomi. Tanah ini berada di bawah kesaksian Tuhan.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel