Ketika Salib Berdiri di Tanah Adat: Catatan Lanjut atas Film Pesta Babi

Ini berbahaya. Sebab masyarakat adat bukan patung museum. Mereka bukan dekorasi etnografis untuk menyelamatkan imajinasi orang kota yang sudah muak dengan kapitalisme. Mereka adalah subjek historis yang hidup, bertarung, berunding, terluka, dan kadang juga terpecah.

Maka pembelaan terhadap hak adat harus berdiri di atas prinsip keadilan, bukan mitos kemurnian. Masyarakat adat harus dibela bukan karena mereka selalu ideal, tetapi karena mereka adalah manusia dan komunitas historis yang memiliki hak atas tanah, budaya, pangan, memori, dan masa depan.

Kalau tidak hati-hati, kita hanya mengganti satu berhala dengan berhala lain. Dahulu berhala itu bernama “pembangunan nasional”. Sekarang berhala baru bisa bernama “adat yang selalu suci”. Keduanya sama-sama berbahaya jika menolak diuji oleh kebenaran.

Pembangunan atau Ekstraksi?

Film ini juga menantang kata “pembangunan”. Kata ini di Indonesia sudah lama menjadi mantra sakti. Begitu sesuatu disebut pembangunan, orang diharapkan diam. Jalan dibuka, hutan ditebang, tanah dipatok, aparat turun, dan semua keberatan dianggap menghambat kemajuan.

Tetapi pertanyaannya: pembangunan untuk siapa?

Kalau pembangunan membuat masyarakat adat kehilangan tanah, perempuan kehilangan sumber pangan, anak-anak kehilangan warisan ekologis, dan pekerja lokal hanya menjadi buruh murah di tanah sendiri, maka kita tidak sedang berbicara tentang pembangunan. Kita sedang berbicara tentang ekstraksi yang memakai pakaian nasionalisme.

Di sini kritik harus presisi. Kita tidak perlu jatuh pada oposisi malas: adat baik, pembangunan jahat. Itu terlalu gampang. Katolik tidak menolak pembangunan. Filsafat sosial Katolik juga tidak anti-modernitas. Yang ditolak adalah pembangunan yang merampas martabat manusia, menghancurkan komunitas, dan menjadikan alam sebagai mesin produksi tanpa jiwa.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN