Ketika Salib Berdiri di Tanah Adat: Catatan Lanjut atas Film Pesta Babi

Pembangunan sejati harus bersifat integral. Ia harus menghormati manusia, budaya, tanah, lingkungan, dan generasi mendatang. Kalau tidak, ia hanyalah kolonialisme baru dengan proposal yang lebih rapi.

Ekologi Integral: Laudato Si’ Turun ke Lumpur

Dalam perspektif Justice and Peace Katolik, Pesta Babi dapat dibaca sebagai pembuktian konkret atas gagasan ekologi integral Paus Fransiskus. Ekologi bukan hanya urusan pohon, sungai, dan hewan. Ekologi selalu menyangkut manusia. Ketika hutan rusak, masyarakat ikut rusak. Ketika tanah adat dicabut, identitas manusia ikut dipatahkan. Ketika rawa hilang, dapur keluarga ikut kosong.

Itulah inti ekologi integral: krisis lingkungan selalu berhubungan dengan krisis sosial, moral, ekonomi, dan spiritual.

Dalam konteks Papua, gagasan ini tidak lagi menjadi teori indah dalam ensiklik. Ia turun ke lumpur. Ia berdiri di rawa. Ia menangis bersama mama-mama yang kehilangan “supermarket gratis” dari alam. Ungkapan itu tampak sederhana, tetapi secara filosofis sangat dalam. Alam bagi masyarakat adat bukan sekadar sumber daya. Alam adalah sistem pemeliharaan kehidupan. Ia adalah dapur, apotek, sekolah, gereja, dan arsip leluhur sekaligus.

Ketika alam dihancurkan, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah cara hidup.

Perempuan Papua dan Tubuh Ekologis

Kesaksian perempuan Papua dalam diskusi itu sangat menentukan. Mereka kehilangan ikan, obat-obatan, pangan, hasil hutan, dan ruang hidup keluarga. Dalam banyak masyarakat adat, perempuan adalah penjaga ekonomi harian kehidupan. Mereka tahu di mana ikan dicari, tanaman obat ditemukan, pangan dikumpulkan, anak diberi makan, dan keluarga dipertahankan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel