Ketika Salib Berdiri di Tanah Adat: Catatan Lanjut atas Film Pesta Babi

Film ini benar dalam jeritannya. Namun jeritan itu harus dijaga agar tidak jatuh menjadi romantisasi adat, generalisasi anti-negara, teologi salib yang dangkal, atau emosi digital tanpa gerakan nyata. Yang dibutuhkan sekarang adalah analisis yang lebih presisi, keberanian gerejawi yang lebih terang, dan strategi pastoral-politik yang lebih konkret.

Papua tidak membutuhkan belas kasihan sentimental. Papua membutuhkan keadilan.

Dan Gereja tidak boleh hanya mengagumi salib merah sebagai simbol yang kuat. Gereja harus bertanya dengan jujur: ketika salib itu berdiri di tanah adat, apakah kita berdiri di dekatnya, atau kita hanya menontonnya dari layar?

Sebab di lumpur Papua, salib sedang diuji.

Apakah ia masih tanda Kristus yang disalibkan bersama kaum kecil, atau sudah menjadi hiasan jinak di dinding yang aman?

Pertanyaan itu tidak hanya untuk negara. Itu untuk Gereja. Itu untuk akademisi. Itu untuk kita semua.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN