Namun teologi salib juga harus dijaga. Salib tidak boleh direduksi menjadi slogan politik. Ia bukan sekadar bendera aktivisme. Salib adalah misteri penderitaan, kebenaran, pengampunan, pengorbanan, dan harapan. Maka pembacaan yang tepat bukanlah menjadikan salib sebagai alat propaganda, melainkan melihatnya sebagai seruan iman dari umat yang merasa ditinggalkan oleh hukum, negara, dan bahkan kadang oleh institusi agamanya sendiri.
Salib merah adalah teologi rakyat. Bukan teologi seminar yang sibuk dengan catatan kaki, tetapi teologi yang lahir dari tanah, air mata, dan keberanian.
Gereja Tidak Boleh Netral
Di hadapan situasi seperti ini, Gereja tidak bisa berlindung di balik bahasa netralitas. Netralitas di hadapan korban bukan kebijaksanaan. Ia bisa menjadi bentuk lain dari pembiaran.
Komisi Justice and Peace Katolik benar ketika menegaskan bahwa Gereja memiliki tugas profetis. Gereja bukan LSM rohani yang tugasnya hanya memberi komentar moral dari jauh. Gereja adalah tubuh Kristus. Dan tubuh Kristus harus mengenali luka Kristus dalam tubuh orang-orang yang tanahnya dirampas, suaranya diabaikan, dan hidupnya dikorbankan atas nama proyek.
Namun kritik terhadap Gereja juga harus adil. Tidak semua diam. Tidak semua berkhianat. Di banyak tempat, ada imam, suster, bruder, katekis, guru, aktivis awam, dan umat kecil yang bekerja dalam sunyi. Mereka tidak masuk poster. Mereka tidak selalu muncul dalam konferensi pers. Tetapi mereka hadir. Mereka menemani. Mereka menanggung risiko.
Maka kritik yang tepat bukanlah membakar seluruh rumah Gereja dengan tuduhan umum. Kritik yang tepat adalah memanggil Gereja institusional agar lebih jelas, lebih cepat, lebih berani, dan lebih setia kepada salib yang diwartakannya sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





