Ketika Salib Berdiri di Tanah Adat: Catatan Lanjut atas Film Pesta Babi

Sebab kalau umat sudah menancapkan salib di tanah adat, tetapi Gereja masih sibuk mengatur jarak aman dari konflik, maka ada sesuatu yang retak dalam kesaksian kita.

Dari Emosi ke Agenda

Film ini berhasil menggugah. Tetapi menggugah saja belum cukup. Dunia digital penuh dengan emosi singkat. Hari ini orang menangis karena Papua. Besok algoritma memberi skandal baru. Lusa semua lupa.

Karena itu Pesta Babi harus dilanjutkan dengan agenda konkret.

Pertama, agenda hukum: menuntut kejelasan izin, prosedur, konsultasi, persetujuan masyarakat adat, dan perlindungan hak ulayat. Kritik harus menyebut mekanisme, bukan hanya mengutuk abstraksi.

Kedua, agenda politik: mendorong negara menghentikan proyek yang mengabaikan masyarakat lokal dan membuka evaluasi publik yang transparan.

Ketiga, agenda pastoral: Gereja perlu membangun pendampingan yang nyata, bukan hanya doa seremonial. Paroki, keuskupan, lembaga pendidikan Katolik, OMK, tarekat religius, dan media Katolik harus bertanya: apa yang bisa kami lakukan?

Keempat, agenda akademik: kampus Katolik harus meneliti, mendokumentasikan, dan memproduksi argumen yang kuat. Jangan biarkan penderitaan rakyat hanya menjadi bahan diskusi webinar. Jadikan ia basis riset, advokasi, dan pendidikan publik.

Kelima, agenda liturgis-profetis: Gereja perlu mengembalikan salib pada makna aslinya. Salib bukan dekorasi. Salib adalah tanda Allah yang masuk ke dalam penderitaan dunia.

Penutup: Salib di Lumpur Papua

Pesta Babi penting bukan karena ia sempurna. Ia penting karena ia memaksa kita berhenti sebentar dari kebisingan nasional dan mendengar suara dari tanah yang hendak dipindahkan dari tubuh pemiliknya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN