Berita  

Tenunlah Rasa dan Citra Kekeluargaan dengan Benang-Benang Kasih Sayang

Semuanya ini, tidak hanya karena rasa bersalah dan terus merasa bersalah! Tetapi bahwa anak hilang itu berani putuskan untuk kembali pulang pada pangkuan Kasih ayahnya.

Dan untuk kita?

Mari susuri jalan hati kita. Sesedikit dan sekecil apapun, setiap kita miliki hati penuh persahabatan. Kita rindukan kekariban dan kemesrahan batin di dalam dan dengan sesama kita. Mempertautkan hati kita dengan sesama adalah panggilan kepada persahabatan itu sendiri. Kita selalu merindukan kekitaan kita dalam titik-titik kebersamaan. Walau dalam sekian banyak nuansa perbedaannya.

Dan, alam dan gerak persahabatan yang benar itu mengajarkan siapapun kita untuk “bisa menerima perbedaan.” Seorang individu teramat kaya dalam ungkapan dirinya, dalam latar belakangnya, dalam karakter dan bawa dirinya. Dan, kita berjuang untuk meraih kekayaan individu itu. Memeluknya dalam spirit ‘kekitaan.’

Namun ternyata…..?

Tak selamanya kita indah, sejuk serta elok dalam sikap dan kata terhadap sesama. Bisa terjadi, kita lagi dilindas-lindas oleh variasi nafsu yang egosentrik. Nafsu ‘kemurnian’ memaksa kita untuk enyahkan yang dianggap haram nan kafirun; nafsu ‘kesalehan’ bikin kita rasa tak nyaman berdekatan dengan yang dianggap nista; nafsu ‘kebenaran’ menekan kita untuk mencecar dan mendepak yang ternilai lemah, sesat dan tak berarah hidup.

Dalam persahabatan penuh kekeluargaan, kita seyogyanya lepaskan cahaya kegemerlapan diri sendiri. Untuk berani singkirkan segala kemuliaan diri yang memikat, namun sebenarnya ‘mematikan.’ Kumpulan laron terbang menari diseputar kemegahan bola lampu bernyala. Namun, sebenarnya sesaat saja semuanya bakal mati merana tiada bersayap lagi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel