“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali”
(Matius 18:15)
P. Kons Beo, SVD
Ini bukan salah dan dosa sesama pada umumnya. Tetapi dosa sesama yang ‘engkau tahu.’ Dan sepertinya ‘engkau tertantang untuk bicara.’ Tetapi bicara salah dan dosa sesama dalam animasi Yesus adalah “tegurlah dia di bawah empat mata.” Soal ‘bicara empat mata’ tentu isyaratkan kecerdasan dan bagaimana bijaksananya ‘harus menegur.’
“Tegur di bawah empat mata” acapkali terpeleset jadi menegur di hadapan “berpasang-pasang mata.” Maka yang terjadi bukanlah koreksi bijak, tetapi hanyalah aksi penelanjangan orang berdosa di hadapan publik. Jadi lebih repot ketika orang merasa puas sebab sudah ‘kupas tuntas kedosaan sesama.’ Dan lalu merasa ‘menang’ sebab ‘tadi itu saya sudah sikat dia, tidak ada sisa memang. Dia mati kutu dan tidak berani berkotek!’
Tak hanya ‘berani sembarang’ tegur tak bijak waktu dan kesempatan, ada lagi eksrim pasif sebaliknya. “Bagusnya urus diri masing-masing. Repot amat urus masalah orang lain.” Orang mengambil langkah apatis. Jalani hidup sendiri-sendiri. ‘Si dia tahu ada di jalan salah, pasti dia tahu harus tahu jalan untuk kembali pulang.’
Sebagian merasa tak miliki otoritas moral lagi. Karenanya, orang tak merasa punya daya atau kewibawaan untuk ‘menegur sesama yang ada dalam nista.’ Mungkin saja ada kerkah diri yang penuh khilaf, “Tak mungkin orang buta menuntun orang buta. Tidakkah keduanya bakal jatuh ke dalam lubang?” (cf Mat 15:1-2). Orang terhalang total untuk bicara empat mata, sebab ia dipaksa untuk mesti serius “tengoklah ke dalam sebelum biara. Singkirkan debu (sendiri) yang masih melekat.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



