Tetapi “tegur di bawah empat mata,” butuhkan energi positif yakni keberanian, apa adanya, ketulusan, keterbukaan, yang semuanya itu berujung pada intensi utama: mendapatkan kembali seorang saudara yang ‘hilang dan bersalah.’
Sebab itulah “kebersamaan atau dinamika empat mata adalah kehadiran daya kasih korektif untuk mengajak pulang sesama atau saudara sendiri. Demi satu rekonsiliasi ‘untuk kita kembali lagi atau kembali kita bersama-sama lagi. Sampai akhir waktu nanti.”
Namun, tetaplah jadi ganjalan yang tak pernah berakhir, sekiranya ‘dosa, kesalahan dan ketidakhebatan sesama’ adalah modal telak untuk menghakimi sejadinya. Apalagi jika telah ditelisik bahwa ada ‘keuntungan, kemenangan atau keberhasilan’ sekiranya kesalahan sesama atau saudara sendiri dibikin berita yang tercecer ke sana-ke kemari.
Yesus awali dinamika menegur sesama dengan langkah pertama: “Tegurlah dia di bawah empat mata…” Itu berarti titik star adalah ‘milikilah hati untuk memulai face to face serta heart to heart untuk bicara pribadi. Artinya sejukan aura wajah dan tatalah hati untuk berterus terang dalam kasih.
Sayangnya, tak tahan diri dan ‘tak tahan bicara (mulut), orang bisa saja, -dan itu sering terjadi-, sudah mulai dari ‘orang lain atau dua tiga orang atau bahkan jemaat (kelompok yang lebih besar) untuk ‘bongkar pasang persoalan’ di luar melodi dan irama kasih. Sebab itulah cita-cita “mendapakatkan kembali saudara” dalam Kasih Yesus sering tak menjadi buah dari satu koreksi persaudaraan (correctio fraterna).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



