Kesetiaanmu, kawan, sungguh tak pernah susut dan aus digilas roda zaman. Aura setiamu tetap tak remuk oleh remasan kata-kata manis penuh dusta. Kawan, mungkin seperti itu kah yang kau ikuti dari DIA yang kau imani? ”Yang walau kita tidak setia, DIA tetap setia, sebab DIA tidak dapat menyangkal diriNYA” (2Tim 2:13).
Di dunia yang rapuh dan rentan ini, kawan, dikau tetap tegar bersenandung penuh teguh hati, ‘kesetiaan ini bukanlah sandiwara. Berkorban untukmu walau kadang kecewa….’ Dalam penyangkalan dan khianat, alam kebencian jadi tak berdaya untuk sebuah kerinduan yang mengampuni penuh ketulusan.
Dan akhirnya, kawan, cinta dan kesetiaan itu sungguh mengujimu dalam kehilangan dan kepergian. Bagaimana pun hatimu tetap berkualitas intan. Yang tak pernah pudar dalam ujian sakit dan derita.
Tetapi, di atas semuanya, apakah kita sedang bermimpi, atau lagi ‘mabuk kepayang memahat langit dengan mengukir cinta penuh bayang? Kita hidup di masa kini ketika air mata dianggap lemah atau banyak menyimpan dusta buaya darat. Kita tengah menerobos zaman ini ketika kepedulian telah mati suri. Sebab orang hanya berjalan lurus dengan irama egosentriknya. Tanpa menoleh dan tiada jedah sejenak demi sesama yang terluka oleh varian tekanan kehidupan tak adil?
Bukan kah, di hari-hari ini, kita hidup dalam cengkeraman pilihan ‘variatif sana-sini yang mendera serta menyandra keteguhan hati,’ dan ketika itulah kesetiaan dan komitmen berulang-ulang dicuekin dan bahkan diludahi?
Dalam serba prahara kehidupan ini, toh cinta tetap kokoh dan bertahan dalam keagungan dirinya. Dan, kawan, kau telah buktikan segalanya. Dalam alam paling batil sekalipun, cinta itu tetap teduh dan utuh. Kau tetap gemakan si Ebiet bahwa ‘setiap nyanyian cinta yang mesti terdengar lembut.’ Tanpa amarah membara. Tiada dendam dan menuntut balas. Bebas kekasaran dan kekerasan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



