Tapi di atas semuanya, saya yakin, tidak karena bertugas sebagai formator (pembina novis), Pater Yan mesti ditelandani sebagai sosok ‘pencinta doa dan keheningan.’ Kekuatan dan kesetiaannya selama tiga puluh (30) tahun hanya di rumah Formasi Novisiat SVD – Kuwu tentu dipilari teguh oleh doa dan keheningan, serta pada kekuatan daya reflektif.
Walau dinilai sosok hemat kata, hening, namun tak berarti P. Yan itu nihil selera humor. Tidak! Di kamar makan komunitas Kuwu, beliau sering buang kalimat untuk saya, “Polisi-polisi sekarang ini gerak lambat sekali. Dan selalu terlambat.” Dan untuk kalimat ini biasanya Pater Frans Pora, seorang senior Komunitas segera sambung, “Polisi mo gerak cepat bagaimana? Celana dinasnnya saja sesak semua tu..”
Tak terlupakan satu kisah di suatu hari. Pater Yan masuk kamar makan sambil senyum-senyum dan bawa cerita tak terduga. Seorang Mama, yang telah lama mengabdi bersama SVD hingga ke Novisiat Kuwu, ditegur oleh Pater Yan. Mama itu sedang tekun buat kue. Pater Yan yang melihat bagaimana si Mama itu sekian tekun lihat-lihat ke buku resep, dan lalu bilang, “Hei, kau ini sudah lama bikin kue, masih saja lihat-lihat buku resep. Tidak bisa hafal juga kah?” Ternyata si mama itu juga seakan tak mau kalah begitu saja, dan langsung jawab, “Ae, pater juga sama saja. Sudah berapa lama bikin misa, pater tetap juga masih lihat buku misa terus…” Jawaban si mama inilah yang bikin Pater Yan tersenyum-senyum.
Br Wilhelmus (Wilibrord), SVD berasal dari Manggarai, Keuskupan Ruteng. Ia dilahirkan tahun 1942, masuk Novisiat SVD tahun 1961, Ikrarkan Kaul Pertama tahun 1963 dan Kaul Kekal pada tahun 1969. Dan Pater Yan Djuang Tukan, SVD berasal dari Waibalun, Keuskupan Larantuka; dilahirkan pada tahun 1942, masuk Novisiat SVD tahun 1963, ikrarkan Kaul Pertama tahun 1965, dan Kaul Kekal pada tahun 1970. Pater Yan Djuang Tukan, SVD ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1971.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




