Cepat, Lugas dan Berimbang

Selamat Jalan Opa Bruder Wily dan Opa Pater Yan

Saya sendiri akhirnya merasa dipaksa pulang ke Ruteng dalam ‘kontemplasi wajah dan kisah seadanya’ dari kedua sosok yang sekian familiar ini. Di tahun-tahun awal di Ruteng, saya mulai mengenal sosok Br Wily. Beliau tampak gembira ketika tahu bahwa saya berasal dari Ende. Cerita-cerita awal beliau dengan beliau iya seputar tugas perutusannya ketika di Ende.

Br Wily tambah semangat ketika tahu saya ini anak tangsi (anak kolong). Dan orangtua saya, Polisi Ande Beo, Br Wily kenal baik, dan cukup membantunya dalam urusan tertentu. Br Wily semangat untuk ingat nama-nama polisi di Ende asal Manggarai seperti Yan Baur, Rafael Tulus, Mus Taku, Frans Wiri, Josef Sari, dan terutama Bapa Sius Jaminta.

Tetap terkenang dalam hati Br Wily grup musik Fanfare di Biara St Yosef-Ende yang selalu memukau di setiap malam Natal atau pada perayaan peringatan proklamasi 17 Agustus di lapangan Perse-Ende. Dan beliau sendiri adalah salah satu personil kunci dari group musik Fanfare itu. “Waktu itu tu kau tu masih ana lo’o, masih dengan sakelake pendek to?” (bahasa Lio: kau waktu itu masih anak kecil, masih dengan celana pendek) kata Bruder Wily untuk saya.

Hari demi hari, bulan dan tahun demi tahun, sosok Bruder coba saya akrabi walau tak pernah tinggal sekomunitas dengannya. Cara bicaranya runtut, dalam alur dan irama yang pasti. Saya tahu Opa Bruder sering tampil serius. Apa yang dianggap serius, penting dan berarti pasti disampaikan dengan serius pula. Seringkali gaya dan isi bicaranya tak boleh disela begitu saja. Dia bisa bereaksi serius, dan terkesan tak suka.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN