Cepat, Lugas dan Berimbang

Selamat Jalan Opa Bruder Wily dan Opa Pater Yan

Ini agak repot buat saya yang sesekali suka usil dan umpan emosi Bruder Wily. Tapi saya juga pandai merayu untuk bikin Bruder kembali tersenyum dengan segala cerita ‘aneh-aneh yang penuh karang-karang, wora banyak ala Ende.’

Bagaimanapun dengan senior, orang tua dalam Serikat, kita mesti belajar santun dan lebih banyak mengerti saja dengan keadaannya. Asal Bruder Wily bisa tersenyum, iya lumayanlah!

Dan kini, rasanya saya mesti kembali ke Kuwu. Iya, untuk mengenangkan sosok Pater Yan Djuang Tukan, konfrater senior yang amat saya banggakan, hormati dan juga saya segani. Watak dan bawaan anak tangsi yang biasanya ‘gara-gara banyak’ macamnya terasa ‘mati langkah’ buat saya di hadapan seorang Pater Yan. Dan saya yakin bahwa para novis (yang pernah) di Kuwu umumnya ada di lintasan rasa dan pengalaman yang sama akan sosok Pater Yan.

Pater Yan sungguh mencintai dunia formasi. Ruang-tempat-dan waktu para novis, calon misionaris SVD, adalah seluruh diri dan keberadaannya pula. Beliau sosok hemat bicara. Namun, dalam bicaranya yang tenang dan pelan, suara dan kata-katanya terdengar pasti dan sungguh berdaya. Apalagi ditambah dengan tatapannya yang dalam.

Siapapun yang mengenal sosok Pater Yan, pasti juga tak bisa menghindar dari kesan akan ‘kesederhanaan hidup apa adanya.’ Pater Yan tak tampil lebih apalagi sampai berkelimpahan! Spiritualitas Cukup dan ‘seperti itu sudah hidup’ bisa ditafsir saja sebagai spirit hidup yang dihayatinya. Saya tahu dan yakin, Pater Yan itu tak gelisah akan ‘makanan, pakaian atau pun hiasan’ untuk dirinya. Ia pun jauh dari kecemasan di seputar daya pikat dan daya tariknya pundi-pundi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN