Pertanyaan berikutnya adalah: masa depan seperti apa yang ingin kita bangun bersama?
Di sinilah wawasan kenegaraan menjadi penting.
Ia mengajak kita melihat Indonesia bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai tanggung jawab antargenerasi.
Persatuan tidak cukup dijaga dengan simbol. Persatuan harus terasa dalam keadilan hukum, kesempatan pendidikan, penghormatan terhadap kebudayaan, perlindungan lingkungan, kualitas pelayanan publik, ruang demokrasi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Jika warga di satu daerah merasa bahwa negara hadir sebagai keadilan, sementara warga di daerah lain merasakan negara sebagai ketidakadilan, maka persatuan akan menghadapi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar perbedaan identitas.
Karena itu, keadilan sosial bukan hanya tujuan ekonomi. Ia merupakan salah satu syarat moral bagi keberlanjutan persatuan.
Persatuan yang tidak menghasilkan rasa memiliki terhadap negara akan mudah menjadi slogan. Sebaliknya, negara yang mampu menghadirkan keadilan akan memperkuat alasan masyarakat untuk tetap merasa menjadi bagian dari satu kehidupan bersama.
Menjaga Akar, Membuka Arah
Pada akhirnya, perjalanan dari wawasan kebangsaan menuju wawasan kenegaraan bukanlah perpindahan dari satu konsep ke konsep lain. Ia adalah pendalaman kesadaran.
Wawasan kebangsaan membuat kita sadar siapa kita.
Pancasila memberi dasar tentang mengapa kita hidup bersama dan nilai apa yang harus menuntun kehidupan bersama itu.
Wawasan kenegaraan membawa kesadaran tersebut ke pertanyaan yang lebih konkret: bagaimana negara harus diselenggarakan agar nilai-nilai itu benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









