Di ruang kelas, misalnya, kejujuran akademik bukan sekadar aturan teknis. Ia merupakan latihan kecil untuk membangun etika kenegaraan.
Memeriksa kebenaran informasi bukan sekadar keterampilan digital. Ia adalah latihan tanggung jawab sebagai warga negara.
Menggunakan kecerdasan artifisial secara jujur bukan sekadar persoalan teknologi. Ia merupakan latihan untuk membedakan antara alat bantu dan pengalihan tanggung jawab.
Mendengarkan pendapat yang berbeda bukan sekadar teknik diskusi. Ia adalah latihan demokrasi.
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah karakter kewargaan dibentuk.
Negara yang demokratis membutuhkan warga yang terbiasa hidup secara demokratis. Negara hukum membutuhkan warga yang terbiasa menghormati hukum. Negara yang menjunjung keadilan membutuhkan warga yang terbiasa bertindak adil.
Dengan demikian, wawasan kenegaraan sesungguhnya mulai dibentuk jauh sebelum seseorang menduduki jabatan publik. Ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari.
Dari Kesamaan Nasib ke Kesamaan Masa Depan
Generasi pendiri bangsa memiliki pengalaman tentang kesamaan nasib. Penjajahan, penderitaan, dan perjuangan bersama menjadi salah satu energi historis yang memperkuat kesadaran kebangsaan.
Generasi sekarang menghadapi tantangan yang berbeda.
Kita berhadapan dengan perubahan teknologi yang cepat, krisis ekologis, ketimpangan, perubahan pola kerja, disinformasi digital, kecerdasan artifisial, serta perubahan konstelasi geopolitik.
Karena itu, kesamaan nasib perlu diterjemahkan menjadi kesamaan masa depan.
Pertanyaannya bukan lagi hanya: apa yang dahulu membuat kita bersatu?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









