Ruteng, infopertama.com – Kota Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur, menyimpan lembaran sejarah yang tak ternilai harganya bagi Republik Indonesia. Di tanah inilah Ir. Soekarno menjalani masa pengasingan yang penuh tekanan di bawah pengawasan ketat pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota DPR RI, Andreas Hugo Pareira (AHP), dalam arahannya pada kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang berlangsung di Aula Asumpta Katedral Ruteng, Jumat (23/10/2026).
Di hadapan para peserta, AHP menjelaskan bahwa alih-alih memadamkan semangat juangnya, masa-masa sulit di Ende justru menjadi titik tolak lahirnya gagasan besar yang merajut persatuan bangsa.
Selama diasingkan di Ende, Bung Karno tidak hanya hidup di dalam sel tahanan yang sempit dan memprihatinkan, tetapi juga membangun kedekatan kultural dengan masyarakat lokal serta para pemuka agama setempat, termasuk para pastor SVD.
Melalui ruang-ruang dialog tersebut, sang Proklamator menyerap realitas kemajemukan Nusantara, mulai dari keragaman bahasa, tradisi, hingga nilai-nilai ketuhanan yang berbudaya.
AHP menuturkan bahwa perenungan di bawah pohon sukun di Ende menjadi saksi bisu bagaimana Bung Karno merumuskan fondasi ideologis yang menyatukan berbagai perbedaan.
Pengalaman batin dan interaksi sosial selama di Flores inilah yang kemudian mengkristal dalam pidato bersejarah 1 Juni 1945, di mana Pancasila diperkenalkan sebagai kontrak sosial dan dasar negara bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












