Kejahatan besar dibesarkan oleh kompromi kecil yang dianggap wajar. Oleh kalimat, “sudah biasa begitu.” Oleh logika, “semua juga melakukannya.” Dari sanalah nurani pelan-pelan kehilangan suaranya.
Menjaga nurani tetap hidup memang tidak nyaman. Ia menuntut risiko: tidak disukai, disalahpahami, bahkan disingkirkan. Tetapi itulah harga agar kita tetap manusia—bukan sekadar roda dalam mesin kekuasaan.
Pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukanlah seberapa tinggi ia naik, melainkan seberapa setia ia pada suara batinnya. Sebab suara batin, sekali mati, tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











