Nurani dan Bahaya Kompromi Kecil

Di sinilah perbedaan antara diam yang bijak dan diam yang mengkhianati diri. Ada saatnya diam adalah bentuk kehati-hatian. Tetapi ada juga saat diam berarti ikut membiarkan ketidakadilan bekerja. Masalahnya, kita sering menyamarkan rasa takut sebagai kebijaksanaan, dan menyebut kenyamanan sebagai kedamaian.

Saya belajar bahwa kapan harus bicara dan kapan harus menahan diri bukan soal strategi semata, melainkan soal menjaga agar nurani tetap hidup. Sebab sekali nurani mati, manusia memang masih bisa hidup secara sosial—punya jabatan, peran, dan pengaruh—tetapi ia kehilangan pusat moralnya.

Kita hidup di zaman ketika yang salah bisa tampak legal, dan yang benar bisa tampak subversif. Ketika kritik dicurigai, dan kepatuhan dipuji tanpa syarat. Dalam situasi seperti ini, godaan terbesar bukan menjadi jahat, melainkan menjadi terbiasa.

Gus Dur juga pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kutipan ini menegaskan bahwa nurani bekerja lintas identitas. Ia tidak bertanya siapa kita, tapi apa yang kita lakukan terhadap sesama.

Di titik itulah rasa malu dan kegelisahan menjadi penting. Malu saat berbuat keliru, gelisah saat melihat ketidakadilan—itu bukan kelemahan. Itu tanda bahwa seseorang masih memiliki sistem peringatan batin. Selama seseorang masih bisa gelisah, ia belum sepenuhnya menyerah sebagai manusia.

Dalam percakapan-percakapan kecil dengan anak-anak dan orang-orang muda, saya sering mengatakan: jangan takut berbeda. Tapi takutlah jika suatu hari hati kalian tidak lagi bergetar saat melihat yang salah. Sebab yang paling berbahaya bukanlah orang jahat, melainkan orang baik yang terlalu lama berkompromi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel