Dengan demikian dosa tidak lagi menjadi tanggungan kita. Malapetaka bukanlah suatu hukuman dari-Nya sebab ia tidak menginginkan umat-Nya berada di bawah hukuman. Hidup tanpa duka dan derita bukanlah hidup yang perkasa. Tidak dimaksudkan di sini bahwa bencana alam yang melanda masyarakat sekitar lereng merapi sebagai rancangan Allah untuk kita maknai. Letusan merapi bukanlah rancangan-Nya. Hal itu terjadi sebagai peristiwa alam semata Allah hanya meminta kita untuk mengais makna dari dalamnya agar kita semakin kokoh.
Kekokohan inilah yang dipahami sebagai berkat dari bencana tersebut. Karenanya kita diminta untuk menerimanya dengan sikap iman. Mengais makna di balik bencana bukan berarti menyetujuinya demi memperoleh berkat di baliknya. Sementara itu kebebasan manusia untuk luput dari bencana itu sama sekali tidak dibatasi.
Penutup
Adanya penderitaan akibat adanya bencana alam seperti letusan merapi memaksa kita untuk mempertanyakan keberadaan Allah. Di pihak lain adanya bencana juga terkadang kita lihat sebagai hukuman dari Allah. Padahal peristiwa itu sendiri adalah peristiwa dari alam, karena ia terjadi berdasarkan hukum alam. Melihat kebobrokan yang terjadi pada alam ini sebagai suatu kekurangan dari kebaikan, keteraturan yang sudah menjadi hukumnya. Sebab sebagai yang diciptakan ia tidak bisa sempurna, kekurangan menjadi bagian darinya. Bencana alam seperti letusnya merapi bukanlah pertanda tidak adanya Allah. Bencana alam adalah sesuatu yang alami, sebagai ciri kenisbian alam ciptaan. Lagipula bencana alam di sini sebagai kekurangan, kejatuhan dari keteraturan, kebaikan. Kebaikan, keteraturanlah yang bereksistensi, sedangkan kekaosan, keruntuhan tidak bereksistensi. Yang baik adalah yang mengalir dari Allah. Karenanya Allah tetap ada kapan dan di mana saja, termasuk ketika kita menderita. Segala sesuatu yang terjadi itu adalah demi suatu keharmonisan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

