Cepat, Lugas dan Berimbang
Opini  

Merapi Meletus; Menggugat Tuhan

Jawaban yang logis atas pertanyaan ini adalah bahwa Tuhan tidak ada. Atau kalau Dia ada, Dia tidak lagi berurusan dengan ciptaan-Nya. Allah itu lebih hanya sebagai causa prima saja. Ia adalah penyebab pertama bagi segala yang ada, dan setelah itu menarik dari dunia tidak mau berurusan dengan dunia lagi. Pernyataan ini benar, karena segala yang ada pasti bergiat sesuai dengan kodratnya. Tidak logis kalau kita mengatakan Allah ada, sementara bukti yang menunjukan keberadaan-Nya tidak ada. Tidak disangkal bahwa kita mengenal sesuatu melalui tindakannya, actus yang sesuai dengan esensinya.

Banyak orang berkata bahwa atribut yang kita kenakan kepada Allah sama sekali tidak mengungkapkan keberadaan-Nya. Allah itu hanya bisa didefinisikan, sebagai yang ada. Keberadaan-Nya tidak bisa dibatasi pada aspek apapun dalam atribut yang dikenakan pada-Nya. Mendefinisikan Allah sebagai yang tak terbatas juga dinilai jauh dari sempurna, karena di sini hanya satu kekurangan disangkal tentang Tuhan.[2]

Perlu meragukan argumen yang mengagung-agungkan Allah ini. Alasannya adalah bahwa di hadapan kenyatan ini (merapi meletus) untuk bertindak sebagai orang baik saja Allah tidak bisa, apalagi yang mengatasi itu. Praktisnya di sini Allah sama sekali tidak berarti. Mungkinkah Allah dibumihanguskan dari bumi atau ikut menjadi korban merapi meletus itu?

Allah di Hadapan Keburukan dan Penderitaan

Mendakwa Allah

Pendakwaan terhadap Allah ini berakar pada keraguan manusia akan partisipasi Allah dalam penderitaanya, khususnya yang diakibatkan oleh letusnya Merapi. Dari pengalamannya, manusia merasa bahwa ia menjalani keharusannya untuk menerima penderitaan di hadapan amukan alam yang maha dahsyat seperti letusan merapi yang mengeluarkan wedhus gembel yang berakibat pada lumpuhnya segala ekosistem yang dilaluinya termasuk manusia dengan segala kepunyaanya. Manusia merasa bahwa ia menghadapi amukan alam yang ganas, yang berakhir pada penderitaan dan kematianya tanpa ditemani Tuhan yang sebelumnya diimani sebagai yang maha di atas segala maha. Pertanyaan muncul: lantas di manakah Dia yang maha baik dan semacamnya dan selalu diwartakan menyertai manusia itu? Benarkah Allah itu ada? Pertanyaan-pertanyaan ini dianggap logis karena berangkat dari hukum berpikir dan bukan tanpa alasan, merapi meletus misalnya.
Di hadapan bencana merapi meletus yang menghantui ketenangan masyarakat sekitarnya, kita dapat berkata: Allah itu tidak sungguh-sungguh berperan dalam hidup manusia dan membiarkan keburukan, bencana dan penderitaan terjadi dalam dunia ciptaan.[3]

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN