Kebobrokan tidak bereksistensi karena ia tidak mempunyai potensi, alasan untuk berada. Ia hanya dapat ada kalau kebaikan mengalami kejatuhan. Di sini kebobrokan adalah kebaikan yang seharusnya ada, walaupun de fakto tidak ada.[4]
Kebaikan sendiri adalah bukti adanya Allah. Karena yang baik mesti dan seharusnya mengalir dari sesuatu yang baik dari dirinya sendiri, tanpa bergantung pada sesuatu yang lain. Sebaliknya kebobrokan tidak bisa dikaitkan dengan Allah karena kebobrokan itu sendiri tidak berasal dari Allah. Karena itu kebobrokan tidak mesti ada dan serentak juga kebobrokan tidak bisa diselaraskan dengan tidak adanya Allah. Mengatakan kebobrokan terlepas dari kebaikan adalah tidak mungkin. Kita hanya dapat menyebut sesuatu sebagi bobrok dalam hubungannya dengan kebaikan.
Oleh karena itu secara kontekstual kebobrokan, bencana seperti tsunami di mentawai dan meletusnya Merapi Jogja bukanlah pertanda tidak adanya Allah. Melainkan peristiwa peneguhan iman. Hal ini diafirmasi dalam kesadaran akan kefanaan sebagai ciptaan Allah melalui transendensi diri dari kenyataan bencana dan penderitaan. Di sana sebenarnya kesadaran bergerak melampui kenyataan untuk mengalami Allah. Sebagai yang mahabaik Allah tentunya menghendaki yang baik pula. Karena itulah yang sepadan dengan eksistensi-Nya sebagai Allah. Ia sendiri tidak mungkin menghendaki kebobrokan karena itu sama sekali bertolak belakang dengan keberadaan-Nya, lagipula sifat itu sama sekali tidak ada padanya. Ia tidak mungkin menghendaki kebobrokan, bencana terjadi dalam dunia ciptaan, karena ia tidak mungkin mengingkari kebaikan dalam diri-Nya sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

