Di situlah warisan Jeremias Lemek menemukan maknanya. Ia tidak sekadar menjalani profesi sebagai advokat, tetapi menempatkan hukum sebagai ruang perjuangan bagi mereka yang sering kali tidak memiliki ruang dalam percakapan kekuasaan. Ia menjadi Voice of the Voiceless—suara bagi mereka yang dibungkam, diabaikan, atau tidak didengar oleh institusi hukum. Keberpihakannya bukan sekadar pilihan profesional, melainkan keberpihakan moral kepada mereka yang berada di pinggir kekuasaan, kepada mereka yang miskin, lemah, dan tersingkir dari arena hukum.
Dalam pengertian itu, Lemek menghidupkan kembali semangat option for the poor: bahwa hukum seharusnya pertama-tama hadir bagi mereka yang paling membutuhkan keadilan. Sebab ukuran keberadaban sebuah republik bukanlah seberapa megah gedung pengadilannya, seberapa banyak undang-undangnya, atau seberapa kuat aparat hukumnya, melainkan apakah mereka yang paling lemah masih dapat mengetuk pintu hukum dan percaya bahwa di balik pintu itu masih ada keadilan.
Karena itu, Menjaga Nyala Keadilan bukan hanya tentang mengenang perjalanan seorang Jeremias Lemek. Ia adalah ajakan untuk menjaga agar api keadilan tidak padam di tengah dinginnya kekuasaan. Api itu harus terus dinyalakan oleh mereka yang percaya bahwa hukum memiliki nurani, bahwa advokasi memiliki keberpihakan, dan bahwa republik hanya akan tetap hidup selama keadilan masih memiliki suara.
Dan selama masih ada suara yang berdiri bersama mereka yang tak bersuara, selama masih ada keberanian untuk membela mereka yang tersingkir, dan selama masih ada orang yang bersedia menjaga nyala itu, harapan terhadap republik belumlah padam. Foucalut mengatakan bahwa “di mana kekuasaan berusaha membungkam suara, di sanalah keadilan harus menemukan cara untuk berbicara’ (Foucault, 1980).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











