Jeremias Lemek telah menyalakan api itu melalui perjalanan panjangnya sebagai advokat dan pemikir hukum. Kini, generasi berikutnya mempunyai tugas yang lebih berat: menjaganya agar tidak padam. Sebab keadilan bukanlah api yang sekali dinyalakan akan terus menyala dengan sendirinya. Ia membutuhkan keberanian, nurani, pengetahuan, kritik, dan keberpihakan kepada manusia.
Hukum tidak boleh hanya menjadi bahasa kekuasaan.Hukum harus menjadi bahasa keadilan. Dan ketika hukum mulai kehilangan manusia di dalam pasal-pasalnya, ketika prosedur mulai lebih penting daripada penderitaan korban, ketika legalitas mulai dipisahkan dari keadilan, maka di situlah kita membutuhkan orang-orang yang berani menyalakan kembali api itu.
Jeremias Lemek telah menunjukkan jalan; “Mencari Keadilan” adalah jejak perjuangannya. Buku Menjaga Nyala Keadilan adalah upaya merawat warisannya. Dan tugas kita adalah memastikan bahwa nyala itu tidak berhenti pada sebuah buku, sebuah diskusi, atau sebuah nama. Ia harus terus hidup dalam praktik hukum. Dalam ruang pengadilan. Dalam pembelaan terhadap mereka yang lemah. Dalam keberanian melawan penyalahgunaan kekuasaan. Dan terutama, dalam keyakinan sederhana bahwa hukum dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.
Sebab republik yang kehilangan keadilan pada akhirnya hanya akan menyisakan institusi tanpa jiwa: hukum tetap tertulis, pengadilan tetap berdiri, birokrasi tetap bekerja, tetapi rakyat kehilangan tempat untuk berharap. Sebaliknya, republik yang mampu menjaga nyala keadilan akan selalu menyisakan harapan—harapan bahwa hukum tidak hanya menjadi bahasa kekuasaan, tetapi juga menjadi rumah bagi mereka yang mencari perlindungan, martabat, dan keadilan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











