Menembus Titik Nol Manggarai, Pengakuan Terbuka Bupati Herybertus Nabit di Tengah Bencana Masif NTT

Ruteng, infopertama.com – Tiga pekan telah berlalu sejak guncangan gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Kabupaten Manggarai, luka mendalam masih membekas di setiap sudut pemukiman. Di tengah situasi krisis yang menguji ketahanan mental dan fisik masyarakat, Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, menyampaikan pengakuan blak-blakan dan reflektif mengenai penanganan darurat yang dinilai lambat oleh publik.

Wawancara eksklusif bersama tim Kompas.com yang disiarkan pada saluran YouTube pada 8 September 2026 ini memotret sisi lain dari kepemimpinan di tengah bencana masif—mulai dari tantangan logistik, trauma psikologis warga, hingga peta jalan pemulihan ke depan.

Bencana Masif Pertama dan Pengakuan Keterlambatan

Menjawab narasi publik perihal lambatnya respons pemerintah daerah dalam penanganan gempa, Bupati Herybertus Nabit secara terbuka tidak mengelak. Ia mengakui keterlambatan tersebut didasari oleh faktor krusial di mana bencana ini sangat masif dan merupakan yang pertama kali dialami, sehingga pemerintah daerah belum memiliki pengalaman serta pengetahuan yang cukup dalam manajemen bencana skala besar.

Pada minggu pertama, 11 dari 12 kecamatan di Manggarai terdampak secara menyeluruh. Skala kerusakan yang masif ini membuat perangkat pemerintahan di tingkat lokal turut menjadi korban, sehingga respons awal menghadapi kendala besar dalam hal kapasitas dan manajemen krisis. Kendati demikian, apresiasi tinggi disampaikan kepada para tenaga kesehatan dan perangkat desa yang tetap berdiri tegak melayani masyarakat kendati fasilitas dan tempat tinggal mereka sendiri turut hancur.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel