Kampus Harus Jadi ‘Menara Air’ Pengetahuan yang Menghidupkan Kehidupan

Yogyakarta, infopertama.com – Perguruan tinggi diingatkan untuk tidak sekadar terjebak pada capaian formalitas akademik seperti jumlah publikasi ilmiah, pengejar indeksasi, atau peningkatan peringkat semata. Kampus dituntut untuk menemukan kembali makna filosofis kehadirannya dengan hadir secara nyata di tengah persoalan masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, Goris Sahdan, usai menghadiri Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta yang diselenggarakan oleh LLDikti Wilayah V.

Menurut Goris, forum akademis tersebut menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak kehilangan dimensi etis serta kemanusiaannya.

“Kampus tidak boleh berhenti sebagai menara pengetahuan atau menara gading. Kampus harus menjadi ruang tempat pengetahuan bergerak, bertemu dengan kehidupan, dan kemudian kembali kepada masyarakat dalam bentuk perubahan yang nyata,” tegas Goris Sahdan dikutip Rabu (09/09/2026).

Teknologi Harus Punya Dimensi Kemanusiaan

Menyikapi laju perkembangan teknologi yang sangat cepat—seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), digitalisasi pemerintahan, big data, robotika, hingga bioteknologi—Goris mengingatkan bahwa kemajuan teknologis tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Ia menyoroti bahwa teknologi berpotensi melahirkan bentuk-bentuk ketimpangan baru jika tidak dibarengi dengan kesadaran kritis. Digitalisasi pelayanan publik bisa mengisolasi kelompok yang tak memiliki akses, sementara otomatisasi dan AI berisiko menggeser struktur kerja serta menimbulkan isu privasi data.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel