Sejalan dengan itu, arah riset perguruan tinggi juga harus dibebaskan dari sekadar mengejar angka publikasi. Penelitian akademis mesti berani menukik langsung ke dalam persoalan riil masyarakat—mulai dari penanganan kemiskinan dan ketimpangan sosial, penanganan krisis iklim serta pangan, hingga pengawalan terhadap transformasi digital, kesehatan masyarakat, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan desa.
Kolaborasi Multisektor dan Peran Yogyakarta
Menghadapi kompleksitas masalah sosial saat ini—seperti kemiskinan dan krisis lingkungan—Goris menilai tidak ada satu pun institusi yang bisa menyelesaikannya sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan komunitas warga.
Secara khusus, Goris menggarisbawahi posisi Yogyakarta sebagai kota pendidikan sekaligus ruang perjumpaan budaya, teknologi, dan gerakan sosial. Yogyakarta memiliki modal intelektual melimpah yang harus diterjemahkan menjadi kekuatan sosial penggerak kehidupan.
Mengubah Menara Gading Menjadi Menara Air
Mengakhiri pemikirannya, Goris Sahdan mengajak seluruh civitas akademika untuk mengubah paradigma perguruan tinggi dari “menara gading” menjadi “menara air” pengetahuan.
“Menara air menyimpan pengetahuan, lalu mengalirkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Ukuran keberhasilan sebuah kampus bukan seberapa tinggi ia berdiri di atas masyarakat, melainkan apakah keberadaannya mampu membuat kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat,” pungkasnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











