Kampus Harus Jadi ‘Menara Air’ Pengetahuan yang Menghidupkan Kehidupan

“Karena itu, kampus tidak cukup hanya bertanya ‘Apa teknologi yang bisa kita ciptakan?’, melainkan ‘Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun dengan teknologi tersebut?’ Pertanyaan inilah yang memberikan dimensi etis, sosial, politik, dan kemanusiaan bagi sains dan teknologi,” ujar akademisi APMD tersebut.

Ia menambahkan bahwa di balik setiap teknologi dan aplikasi selalu ada relasi kekuasaan serta konsekuensi sosial yang harus dikawal secara kritis oleh akademisi.

Transformasi Pengetahuan (Knowledge Transformation)

Goris mendorong konsep “Kampus Bergerak”, yakni kampus yang berani keluar dari zona nyaman. Kampus tidak hanya menunggu mahasiswa di ruang kelas, tetapi aktif turun mendatangi desa, kota, industri, pemerintahan, hingga komunitas warga.

Dalam pandangannya, perlu ada pergeseran orientasi perguruan tinggi dari sekadar knowledge production (produksi pengetahuan) menuju knowledge transformation (transformasi pengetahuan). Pengetahuan tidak boleh berhenti di lembar jurnal ilmiah, tetapi harus menjelma menjadi aksi nyata, kebijakan publik, inovasi, dan gerakan sosial.

“Sebuah teori baru menjadi bermakna ketika membantu manusia memahami persoalan hidupnya. Sebuah inovasi berarti jika mampu menyelesaikan masalah warga, dan penelitian penting jika menjadi basis kebijakan serta pemberdayaan,” terangnya.

Gerakan transformasi ini menuntut perubahan mendasar pada seluruh ekosistem akademis. Dosen tak lagi cukup sekadar berdiri mengajar di ruang kelas, melainkan harus tampil sebagai intelektual publik yang sigap membaca arah perubahan zaman. Di saat yang sama, mahasiswa tidak boleh hanya dididik mengejar kelulusan dan ijazah, melainkan ditempa menjadi warga negara yang kritis, tanggap, serta bertanggung jawab.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel