Tag: Yogyakarta

  • Soal Kasus Dugaan Penganiayaan Daycare Yogyakarta, Begini Penjelasan Psikolog UST

    Soal Kasus Dugaan Penganiayaan Daycare Yogyakarta, Begini Penjelasan Psikolog UST

    Yogyakarta, infopertama.com – Kasus dugaan kekerasan terhadap anak baru-baru ini di sebuah daycare di Yogyakarta bukan sekadar peristiwa kriminal. Ia adalah krisis kepercayaan.

    Daycare, sebuah ruang aman yang kini berubah menjadi ancaman di Umbulharjo, kota Yogyakarta ini patut menjadi perhatian semua, terutama orangtua.

    Sebab, ruang yang semestinya menjadi perpanjangan tangan orang tua dalam merawat anak, justru muncul dugaan perlakuan yang mengkhianati amanah tersebut.

    Kepercayaan diyakini sebagai fondasi utama dalam relasi antara orang tua dan lembaga penitipan anak.

    Psikolog UST Yogyakarta, Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog menjelaskan kasus dugaan penganiayaan daycare Yogyakarta dari kacamata psikologi.

    Menurutnya, dalam perspektif psikologi sosial, kepercayaan (trust) terbentuk dari tiga hal: persepsi kompetensi, integritas, dan niat baik.

    Orang tua menitipkan anak bukan hanya karena kebutuhan praktis, tetapi karena mereka meyakini bahwa pengasuh memiliki kemampuan, nilai, dan kepedulian yang sejalan dengan mereka.

    “Ketika kasus kekerasan muncul, yang runtuh bukan hanya reputasi sebuah lembaga, tetapi juga struktur kepercayaan itu sendiri.” Ujar Flora Grace Putrianti, Minggu, 26 April.

    Dalam kajian perilaku konsumen, jelas Flora, kepuasan pelanggan (customer satisfaction) sering kali menjadi indikator utama kualitas layanan. Namun dalam konteks daycare, kepuasan orang tua kerap bersifat “semu”.

    “Orang tua merasa puas karena anak tampak baik-baik saja saat dijemput, lingkungan terlihat bersih, atau pengasuh tampak ramah. Padahal, anak usia dini belum memiliki kapasitas untuk melaporkan pengalaman negatif secara jelas.” Ujar Flora Grace, owner Harmonia Psychocare via gawainya kepada infopertama.com.

    Laman: 1 2 3

  • Gagal Capai Kesepakatan, Yayasan UST Tolak Pakta Integritas Mahasiswa: “Percayalah Seperti Orang Tua”

    Gagal Capai Kesepakatan, Yayasan UST Tolak Pakta Integritas Mahasiswa: “Percayalah Seperti Orang Tua”

    Yogyakarta, infopertama.com – Ketegangan mewarnai pertemuan antara mahasiswa dan jajaran pimpinan Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) di Yogyakarta, Kamis (15/1/2026). Debat terbuka yang diinisiasi oleh BEM KBM UST ini berakhir tanpa komitmen tertulis setelah pihak Yayasan menolak menandatangani Pakta Integritas terkait 12 tuntutan mahasiswa.

    Kronologi dari Ruang Publik ke Meja Audiensi

    Aksi yang awalnya direncanakan digelar secara terbuka di depan Patung Ki Hadjar Dewantara ini sempat dialihkan ke dalam kantor Yayasan atas undangan pihak pengelola. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh kunci Yayasan, yakni: Ki Saur Panjaitan (Ketua Yayasan), Ki Assegaf (Wakil Ketua Yayasan), Ki Untung (Sekretaris Yayasan), Nyi Esti (Bendahara Yayasan) dan, Ki Riski (Staf Yayasan)

    Di sisi lain, delegasi mahasiswa dipimpin langsung oleh Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM UST, Ain Dadong (Mauli Ain), didampingi tujuh anggota kabinetnya.

    Kritik Tajam atas Fungsi Pengawasan

    Membuka debat, Ain Dadong menyampaikan kekecewaan mendalam atas sikap pasif Yayasan. Menurutnya, Yayasan seharusnya bertindak sebagai pengawas Rektorat yang hingga kini dianggap abai terhadap nasib ribuan mahasiswa.

    “Yayasan seharusnya menjadi benteng terakhir ketika aspirasi kami diabaikan oleh Rektorat, bukan justru ikut menutup mata,” tegas Ain di hadapan pimpinan Yayasan.

    Debat Panas: Profesionalisme vs Analogi Kekeluargaan

    Suasana memanas ketika mahasiswa menyodorkan lembar Pakta Integritas. Meski Ketua Yayasan, Ki Saur Panjaitan, menyatakan secara lisan akan membawa aspirasi mahasiswa ke tingkat Rektorat, ia menolak memberikan tanda tangan resmi.

    Laman: 1 2

  • Daftar 36 Putra-putri DIY Lolos SKD SPCP IPDN 2025, Siapa Saja?

    Daftar 36 Putra-putri DIY Lolos SKD SPCP IPDN 2025, Siapa Saja?

    infopertama.com – Sebanyak 36 putra-putri DIY dari berbagai kabupaten/Kota dinyatakan lulus Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) pada seleksi penerimaan calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri tahun 2025.

    Adapun 36 orang Calon Praja IPDN asal DIY ini sesuai Keputusan Rektor IPDN Halilul Khairi dengan nomor : 800.1.2.2 – 385 tahun 2025, yang dikeluarkan 25 Agustus 2025.

    Untuk selengkapnya silahkan KLIK DI SINI

  • Desa Kuat

    Desa Kuat

    Oleh Sutoro Eko; Ketua STPM APMD

    infopertama.com – Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada tahun 2013, memberi pesan bermakna pada RUU Desa, yang tengah hangat dibahas di Senayan. “Desa harus kuat. Kalau negara kuat, desa belum tentu kuat. Kalau desa kuat, negara pasti kuat”.

    Desa kuat menjadi penanda pertama misi besar Undang – Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, baru disusul dengan desa maju, mandiri, dan demokratis, sebagai landasan bagi keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Makna desa kuat adalah bertenaga secara sosial, berdaulat secara politik, berdaya secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya.

    Gagasan desa kuat relevan dengan konteks sosiologis-historis serta cara pandang esensialisme tentang desa dan relasi kuasa antara negara dengan desa.

    Saya kerap mengatakan bahwa desa itu “cerak watu, adoh ratu”, atau dekat dengan batu, jauh dari ratu. Batu adalah simbol kekuatan masyarakat, ratu adalah simbol kekuasaan negara. Kekuasaan negara selalu rapuh dan semu ketika tidak dilandasi kekuatan masyarakat setempat (adat, desa, kampung).

    Dedy Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, pernah bilang: “Sejarah membuktikan bahwa Bung Karno dan Pak Harto tidak pernah bisa kuat dan berhasil memaksa masyarakat lokal.” Sebaliknya, kekuatan tanpa akses kekuasaan, hanya akan berputar-putar di tempat, tidak pernah menjadi besar dan jaya.

    Gagasan desa kuat berarti kekuatan lokal dihadirkan, memiliki akses pada kekusaan negara, sekaligus kekuasan negara memberi pengakuan pada desa dan redistribusi sumberdaya ekonomi-politik kepada desa. Desa kuat berarti negara memperkuat desa, sebagai negasi atas negara etatis melenyapkan desa, negara kapitalis menghisap dan mengisolasi desa, maupun negara kolonial-modernis yang memperalat dan melemahkan desa.

    Laman: 1 2

  • Bupati dan Sejumlah Pejabat Blora Ziarah Kemerdekaan ke Makam Pahlawan Nasional Asli Blora di Yogyakarta

    Yogyakarta, infopertama.com – Ada yang istimewa di kegiatan ziarah kemerdekaan tahun ini, dalam rangka menyambut HUT ke-79 Republik Indonesia yang dilakukan oleh Pemkab Blora. Selasa (6/8/2024), Bupati H. Arief Rohman beserta jajarannya melakukan ziarah kemerdekaan ke makam pahlawan nasional asli Blora, RM. Adi Soemarmo Wirjokoesoemo, di TMP Kusuma Negara, Kota Yogyakarta.

    Ikut dalam rombongan ziarah kemerdekaan tersebut, para Asisten Sekda, Kepala OPD terkait, hingga perwakilan Kantor Kemenag Blora dan perwakilan dari Kodim 0721/ Blora.

    Setidaknya ada 3 makam di TMP Kusuma Negara, Kota Yogyakarta yang diziarahi Bupati Arief dan rombongan. Masing-masing, makam Pahlawan Nasional Jenderal Besar Sudirman, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan raya dari eks Stasiun Blora ke arah timur sampai Yonif 410/Alugoro.

    Yang kedua makam Pahlawan Nasional RM. Adi Soemarmo Wirjokoesoemo, perintis TNI AU kelahiran Blora 31 Maret 1921 yang gugur pada 29 Juli 1947. Dan, yang ketiga makam Kolonel Inf. Purnawirawan Soepadi Joedodarmo, Bupati Blora ke -22 yang menjabat periode 1973-1979.

    Bupati Arief Rohman menjelaskan, ziarah kemerdekaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke -79 ke makam pahlawan nasional asli Blora di TMP Kusuma Negara, Yogyakarta, kali pertama digelar oleh Pemkab Blora.

    Dikemukakan, biasanya kalau HUT RI ziarahnya hanya ke Taman Makam Pahlawan yang ada di Blora saja saat renungan suci. ”Untuk tahun ini kami mencoba menggelar ziarah juga ke makam para pahlawan asli Blora yang berada di luar kota. Seperti yang ada di Yogyakarta ini,” jelas Bupati.

    Laman: 1 2 3

  • Tiga Alasan Yogyakarta Jadi Daerah Istimewa, Pernah Jadi Ibu Kota Negara

    infopertama.com – Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal akan keramahaan dan indahnya destinasi wisata.

    Destinasi wisata Yogyakarta sangat beragam mulai dari destinasi wisata alam, sejarah hingga budaya.

    Salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal dan menjadi salah satu keajaiban dunia adalah Candi Prambanan.

    Yogyakarta juga merupakan salah satu daerah yang di memiliki otonomi daerah khusus yang di sebut Daerah Istimewa.

    Namun banyak yang belum tahu, kenapa Yogyakarta di sebut Daerah Istimewa. Ternyata terdapat alasan Yogyakarta di sebut sebagai Daerah Istimewa.

    Berikut ini beberapa alasannya

    1. Pernah Menjadi Ibukota Indonesia

    Pertama Indonesia pernah menjadi Ibu kota Indonesia pada masa kemerdekaan tepatnya pada tahun 1956 hingga 1949. Hal ini di lakukan karena pada masa itu masih ada bekas tentara Jepang yang ada di Indonesia sehingga kondisi tidak kondusif.

    Sehingga di lakukan perpindahan ibu kota, pada saat itu Gedung Agung Yogyakarta menjadi istana Kepresidenan sementara.

    2. Sejarah

    Alasan kedua yang menyebabkan Yogyakarta menjadi daerah istimewa adalah karena sejarahnya.

    Alasan Yogyakarta jadi Daerah Istimewa

    Pada sejarahnya Yogyakarta telah memiliki pemerintahan sendiri sebelum adanya Indonesia. Dimana pada tahun 1755 Kraton Yogyakarta telah berdiri dengan berbentuk monarki. Bahkan setelah Indonesia merdeka, Kraton Yogyakarta juga masih eksis sebagai kerajaan.

    Hingga saat ini Keraton Yogyakarta juga masih di ada dan di pimpin oleh Sultan Hamengkubuwono X yang menjaga adat dan istiadat Keraton.

    3. Undang-Undang

    Alasan ketiga yang menjadikan Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa adalah karena adanya undang-undang otomi daerah khusus yang menyatakan status keistimewaan Yogyakarta.

    Laman: 1 2

  • 7 Universitas Swasta Terbaik di Jogja Versi Unirank 2023, Kampus Agama Masih Mendominasi

    DIY, infopertama.com – Kampus-kampus bernuansa agama terus mendominasi Pemeringkatan Universitas Swasta di Kota Pendidikan Yogyakarta versi Unirank 2023.

    Pada urutan 3 teratas dominasi kampus bercorak islam masih tak terkalahkan. Kemudian menyusul kampus Katolik melengkapi 5 besar. 

    Di posisi Buncit milik kampus bercorak Kristen, sementara satu kampus swasta lainnya merupakan kampus bercita rasa Nusantara.

    Sebagaimana kita pahami, bahwa untuk urusan pendidikan, tentu setiap orang menginginkan yang terbaik, termasuk urusan pemilihan universitas. Stigma harus masuk universitas pelat merah karena pasti unggulan mulai tergerus akan bertambahnya daftar universitas swasta terbaik di Jogja dan di kota-kota lainnya.

    Dengan segala plus minus dan pilihan jurusan yang ditawarkan, deretan universitas swasta terbaik di Jogja versi Unirank 2023 berikut ini bisa menjadi referensi.

    1. Universitas Islam Indonesia (UII)

    Kampus UII Yogyakarta (uii.ac.id)

    Berada di urutan pertama sebagai universitas swasta terbaik di Jogja versi Unirank 2023, UII ada di urutan ke-3 kampus terbaik di Jogja, juga urutan ke-23 di Indonesia. Dari seluruh program studi yang ditawarkan oleh UII, setidaknya 70 persen program studi telah terakreditasi Unggul atau A.

    2. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

    Kampus UMY. (Dok. Humas dan Protokol UMY)

    Buat kamu yang berkeinginan masuk UMY patut berbangga, pasalnya kampus satu ini berada di rangking ke-2 sebagai universitas swasta terbaik di Jogja, urutan ke-5 terbaik dari 26 universitas di Jogja, dan urutan ke-33 di Indonesia. Memiliki tagline ‘Muda Mendunia’, jurusan favorit di UMY antara lain adalah Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

    Laman: 1 2

  • Rektor UST Yogyakarta Lantik Putra Manggarai jadi Warek IV Periode 2023-2027

    Yogyakarta, infopertama.com – Rektor Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Ki Prof H. Pardimin MPd PhD melantik Dr. Silvester Goridus Sukur, Mpd, CIQaR sebagai Wakil Rektor (Warek) IV periode 2023 – 2027 kampus yang didirikan Mendiknas Pertama Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

    Selain Wakil Rektor IV, Ki Pardimin juga melantik Wakil Rektor I UST Dr. Yuli Prihatni MPd, Wakil Rektor II Dr. Kusuma Chandra Kirana MM. Dan, Wakil Rektor III Dr. Ari Setiawan S.Sos.I MPd.

    Wakil Rektor I memiliki tugas mewakili Rektor dalam memimpin pengelolaan kegiatan Caturdharma Perguruan Tinggi, merumuskan kebijakan umum dan kebijakan-kebijakan strategis di bidang akademik.

    Wakil Rektor II memiliki tugas mewakili Rektor dalam memimpin pengelolaan kegiatan Caturdharma Perguruan Tinggi, membantu Rektor dalam perumusan kebijakan umum. Dan, merumuskan kebijakan-kebijakan strategis di bidang perencanaan keuangan, tata kelola, Sumber Daya Manusia (SDM), sarana prasarana, sistem teknologi dan informasi.

    Sementar Wakil Rektor III memiliki tugas mewakili Rektor dalam memimpin pengelolaan kegiatan Caturdharma Perguruan Tinggi. Ia juga membantu Rektor dalam perumusan kebijakan umum, dan merumuskan kebijakan-kebijakan strategis di bidang kemahasiswaan dan alumni.

    Warek IV UST Yogyakarta memiliki tugas mewakili Rektor dalam memimpin pengelolaan kegiatan Caturdharma Perguruan Tinggi, merumuskan kebijakan umum dan kebijakan-kebijakan strategis di bidang kehumasan dan urusan internasional.

    Warek IV
    Prosesi Pengambilan Sumpah Para Wakil Rektor UST Yogyakarta (Humas UST)

    Pelantikan para wakil rektor UST Yogyakarta ini berlangsung di Ruang Senat Gedung Pusat UST Yogyakarta, Kamis 20 Juli 2023 pukul 13.00 WIB.

    Laman: 1 2

  • Mahasiswi Asal Nagekeo Tewas dalam Kamar Kos di Jogja

    Yogyakarta, infopertama.com – Elisabeth Natalia Bupu, mahasiswi semester akhir asal Maukeli, Nagekeo, Flores, ditemukan meninggal dengan cara gantung diri menggunakan seutas tali di Yogyakarta.

    Natalia (22) dtemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di kamar kos Jln. Glagasari G.G Randu No. 332 A Yogyakarta Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.

    Korban dtemukan oleh teman sesama kos pada Kamis (20/4/23) sekira pukul 16.30 WIB. Sesuai data yang ada, korban saat ini sedang kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta dengan Program Studi Akuntansi S1.

    Korban adalah anak kedua dari tiga bersaudara asal dari Mananuza RT 02 RW 01 Rutosoro, Kec. Golewa, Kabupaten Ngada Flores NTT.

    Korban langsung bawakan ke RS Wirosaban Kota Yogyakarta.

    Baca juga:

    Terancam Hukuman Mati, ini Wajah si Anak Durhaka Dhio Daffa Pembunuh Keluarganya dengan Racun Arsenik

    Kasi Humas Polresta Yogyakarta, AKP Timbul Sasana Raharja membenarkan peristiwa seorang wanita (Mahasiswi asal Nagekeo) gantung diri di kamar kos Jln. Glagasari GG Randu No 332 A Yogyakarta Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta

    Teman kampus korban di Yogyakarta membeberkan, korban Elisabeth Natalia Bupu merupakan alumni SMA Regina Pacis Bajawa angkatan 2018. Ia (Natalia) merupakan anak seorang guru asal Maukeli, Mauponggo, Nagekeo.

    Baca juga:

    Mengapa Bu*uh Diri? Manusia dalam Ruang Dilema Eksistensi menurut Erich Fromm

  • Umat Islam Seharusnya Bersatu

    Jogja, infopertama.comMuhammad Rozalimi Ramle, Rektor Kolej Universiti Islam Perlis (KUIPs) menegaskan bahwa umat islam seharusnya bersatu, bukan malah berpisah atau tercerai berai hanya karena berbagai kepentingan.

    Menurutnya, karena islam berlandas pada wahyu yang sama maka umat islam seharusnya bersatu.

    Hal itu ia sampaikan saat tiba di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kamis (02/03/2023).

    Di Yogyakarta, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathurrahman Kamal ikut mendampingi Rektor Kolej Universiti Islam Perlis (KUIPs) Muhammad Rozalimi Ramle tersebut.

    Pada kesempatan itu, Ramle mengungkapkan bahwa ini kali pertama ia menginjak bumi Yogyakarta.

    “Ini pertama kalinya saya sampai di bumi Yogyakarta. Tapi Yogyakarta ini namanya saya sering dengar, karena ia merupakan tempat tokoh yang besar. Dan, saya tidak menyangka ternyata masjid ini yang saya tonton di film Sang Pencerah,” ungkap Ramle.

    Dalam Tabligh Akbar yang bertajuk “Persatuan Umat (Tauhid al-Ummah), Ramle menjelaskan bahwa dalam bahasa Melayu, kata persatuan berarti organisasi, sehingga dalam bahasa Melayu tajuknya berarti kesatuan umat. Ramle mengatakan bahwa umat islam berasas pada wahyu yang turun dari langit dan berada pada landasan yang sama.

    “Karena umat islam ini berasas pada wahyu yang turun dari langit. Al Qur’an itu satu. As Sunnah itu satu, Allah ‘Azza wa Jalla itu satu, Nabi Muhammadiyah itu juga seorang. Maka itu kita berada pada landasan yang sama,” terangnya mengutip laman resmi muhammadiyah.

    Berdasarkan QS. Ali Imran aat 103, Ramle menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada umat manusia untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Hal ini lantaran perpecahan merupakan suatu perkara yang dapat melemahkan umat.

    Laman: 1 2

  • Dua Terduga Pelaku Kasus Penganiayaan Maut Mahasiswa Asing di DIY Diburu Polisi

    Yogyakarta, infopertama.com – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta memburu dua orang yang diduga menjadi pelaku penganiayaan hingga berujung tewasnya seorang mahasiswa asal Timor Leste bernama Edilson Henrique Lopes.

    Korban yang merupakan warga negara asing ini menjadi sasaran penganiayaan hingga tewas di Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Yogyakarta, Rabu (31/8) dinihari yang lalu.

    Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Idham Mahdi mengatakan telah memeriksa 14 saksi. Selain itu juga melakukan pendalaman rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian.

    “Saksi ada penambahan jadi 14 orang, ada saksi di TKP dan saksi korban. Petunjuk dari rekaman CCTV juga kami dalami tapi kualitasnya kurang. Tapi sudah kita identifikasi,” kata Idham, melansir merdeka.com, Senin (12/9).

    Idham membeberkan dari keterangan saksi dan rekaman CCTV, polisi mengidentifikasi dua terduga pelaku penganiayaan hingga tewasnya mahasiswa asing tersebut.

    Idham menambahkan kedua terduga pelaku ini sudah melarikan diri keluar Yogyakarta. Selain itu dua terduga pelaku ini juga sudah menonaktifkan akun media sosialnya.

    “Identifikasi kami dua orang tapi mungkin ada penambahan lagi. Kami curigai yang bersangkutan sudah melarikan diri. Cirinya saat ini dia offline (mematikan media sosialnya),” ucap Idham.

    “Keduanya bukan teman dekat korban, tidak (berasal) dari satu kampung dan tidak ada hubungannya dengan korban. Juga bukan WNA. Kami akan lakukan pengejaran sampai kapan pun untuk kasus ini,” tegas Idham.

  • Kisah Panjang Tugu Jogja, Spot Selfie yang Ikonik

    DIY, infopertama.com – Bila berwisata ke kota budaya Yogyakarta, Tugu Jogja pasti masuk daftar tempat yang harus kunjungan. Di persimpangan jalan utama Jogja ini, kamu bisa melakukan swafoto dengan latar belakang tugu atau sekadar menikmati suasana di sekitarnya.

    Tapi, kamu mungkin salah satu yang tidak tahu bentuk asli dari Tugu Jogja yang ikonik itu. Yap, tugu ini sebenarnya adalah hasil pembangunan kembali usai tugu aslinya sempat runtuh akibat gempa besar. Pembangunan kembali tugu dengan bentuk yang kita kenal sekarang ini juga mendapat dukungan pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada masa itu.

    Pembangunan ulang Tugu ini berdasarkan perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1756. Nama aslinya adalah Tugu Golong Gilig. Bangunan ini menjadi salah satu titik penanda dari Sumbu Filosofis atau Garis Imajiner Yogyakarta. Tugu Golong Gilig segaris dengan Gunung Merapi, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan.

    Sumbu Filosofis Yogyakarta menggambarkan tentang proses kehidupan manusia sejak lahir hingga meninggal. Khusus untuk filosofi Tugu Golong Gilig, bangunan tersebut mengusung nilai manunggaling kawula lan Gusti yang berarti menyatunya rakyat dengan raja dan Tuhannya.

    Perubahan Konstruksi

    Tugu Jogja
    Bentuk awal Tugu Golong Gilig. (Okezone)

    Gempa besar yang melanda Yogyakarta pada 10 Juni 1867 membuat Tugu Golong Gilig hancur berkeping-keping. Tugu ini awalnya memiliki ukuran 25 meter dan berbentuk silinder atau gilig dengan ujung berbentuk bulat atau golong itu pun alami pembaruan dan konstruksi ulang. Pembangunan kembali tugu tersebut selesai pada 3 Oktober 1899.

    Laman: 1 2

  • Alasan Jogja Disebut Sebagai Kota Pelajar, Bukan Karena UGM!

    DIY, infopertama.com – Ada banyak julukan untuk Yogyakarta. Selain Kota Gudeg, yang cukup populer adalah Kota Pelajar. Memang, di sana ada banyak perguruan tinggi. Jogja juga penuh dengan perantau dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Tapi, sebenarnya dari mana sih julukan ini berasal?

    Menurut Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, total ada 104 Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Total, ada 732 program pendidikan (prodi) di sana. Ini baru perguruan tinggi, ya? Kalau menghitung sekolah menengah atas atau kejuruan baik negeri ataupun swasta, tentu bakal jauh lebih banyak lagi.

    Nah, soal alasan mengapa Jogja sampai mendapati julukan sebagai Kota Pelajar, tesis Kurniawati, mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gadjah Mada pada 2006 lalu berjudul Yogyakarta “Kota Pendidikan” Perjalanan Pencitraan Sebuah Kota di Jawa pada Abad XX punya penjelasannya.

    “Sejak 1959 simbol pendidikan nasional diberikan pemerintah terhadap Taman Siswa melalui nama Ki Hadjar Dewantara. Namun, Universitas Gadjah Mada tetap menjadi simbol kuat Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” tulis tesis tersebut.

    Kota Pelajar

    Realitanya, Jogja sebagai kota pendidikan (pelajar) sejak awal abad ke-20. Hal ini tidak lepas dari berdirinya Muhammadiyah dan Taman Siswa. Status ini semakin tegas sejak UGM berdiri pada 19 Desember 1949. Universitas ini jadi yang pertama pemerintah Indonesia dirikan usai menyatakan diri merdeka dari penjajah.

    Kemunculan UGM ternyata jadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain berdiri di wilayah Yogyakarta. Yang menarik, perguruan tinggi ini bermacam-macam jenisnya. Ada yang berlandaskan pendidikan kesenian seperti Akademi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia atau kini lebih populer jadi Institut Seni Yogyakarta. Ada juga yang berlandaskan agama seperti Sekolah Tinggi Islam yang kini kenal sebagai Universitas Islam Indonesia. Atau Sanata Darma, Atma Jaya, UKDW dan sebagainya.

    Laman: 1 2