Di bumi yang berputar penuh gejolak ini, kisah-kisah kehidupan tetaplah membara dalam persaingan penuh sengit demi “membungkus citra diri.” Manusia saling mencakar dan menerkam saat ia merasa bahwa ‘telanjang dan ketanpaan’ adalah aib. Manusia saling merebut ‘pakaian’ ini dan itu. Semuanya agar terlihat ‘gagah dan tak telanjang.’
Namun sayangnya, di alam keras penuh kompetisi ini, kiat menelanjangi orang lain seakan tak pernah surut. Bahkan semakin jadi kasar dan membabi buta. ‘Pakaian kekuasaan’ yang diperebutkan sudah tenggelamkan manusia dalam hoaks, penyesatan, berita palsu, penggiringan opini negatif, kritik di luar nalar dan tanpa etika.
Dan semuanya itu jadi makin rumit, saat “pakaian kekuasaan” itu telah masuk rana politik. Dan siapakah yang sanggup membantah bahwa “Poltik itu kotor. Politik itu janji petai-hampa, senyum yang diperhitungkan, salam yang dicari efeknya, rangkulan yang tidak ikhlas. Politik itu bujukan, tipuan, ancaman, juga suap.”
Di ketinggian salib, Dia yang datang dari kemuliaan justru hendak kembali pada kemuliaan abadi di dalam “ketanpaan.” Semuanya mesti Ia tinggalkan. Yang bersamaNya, biarlah hanya dua penyamun, sampah masyarakat yang tak diperhitungkan! Manusia durjana ‘tanpa nama baik lagi.’
Dari kitab Ayub, yang dibakukan pada abad IV SM, tertangkap seruan Ayub, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang pula aku akan kembali ke dalamnya” (Ayub 1:21). Titik awal dan titik akhir kehidupan siapapun anak manusia adalah “ketelanjangan, ketanpaan, ketiadaan.” Sayangnya, di antara kedua titik awal dan tidak akhir itu, manusia telah bergerak tak berarah. Kepanikan yang penuh cemas akan varian ‘pakaian’ telah membuat manusia jauh dari rasa kasih sayang, keakraban, kerukunan dan rasa penuh persaudaraan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



