Ia Telah Wafat Bahkan Wafat di Kayu Salib

‘Kisah ketelanjangan Tuhan dan elegi salibNya’ menuntun kita dalam keyakinan menuju sukacita. Benarlah bahwa “kisah kegembiraan dimulai dengan membiarkan diri kita dipandang oleh Yesus.” Sebagaimana kita bertarung untuk memandangNya dalam ‘ketanpaan’ ketika “Ia ditelanjangi di depan kita” maka sepantasnya “kita harus berani membuka diri pada pandanganNya, dan percaya bahwa Dia akan berkenan pada kita.”

Tetapi ‘ketelanjangan dan derita salib Tuhan’ adalah marwah solidaritas ilahi pada kemanusiaan, pada kejasmanian, pada kebumian. Tuhan memang telah menjadi sama dalam segalanya dengan kita, kecuali dalam hal dosa (cf Ibr 4:5).

Jalan Salib mesti jadi kerygma ziarah ketanpaan ‘milik kita.’ Kita mesti diperlihatkan atau memperlihatkan diri sebagaimana adanya kita. Salib dalam Tuhan adalah petunjuk bahwa kita ‘mesti telanjang.’ Tanpa pernak-pernik dan asesori berdaya pikat yang mengecoh. Dalam Salib kita dicahayai untuk masuk dalam kelemahan dan kerapuhan diri. Untuk “berani memeluk diri yang tidak indah.”

Satu percikan penuh makna pantas direnungkan: “Para imam dan religius harus berani maju ke tempat terang dan terlihat rapuh, bagaikan seorang yang meraba-raba dalam gelap, yang kehilangan kesabaran, yang mengalami kesulitan berdoa atau tantangan apapun yang dihadapi” (T. Radcliffe. OP). Hanya dengan cara itulah semua kita belajar untuk dipenuhi kekuatan rahmat Tuhan. Untuk diselimuti Kasih Tuhan sendiri yang menyelamatkan!

Salib pasti dienyahkan oleh para pemburu pencitraan. Yang membungkus diri dan jalan hidup dengan segala yang glamour dan elitis. Sebab salib menantang siapapun untuk tanggalkan dan tinggalkan ‘pakaian kuasa, jabatan, kedudukan, harta dan kekayaan, dan segala atribut kebesaran. Pun salib pasti dibenci oleh siapapun yang ‘berpakaian kesalehan abal-abal.’ Yang hanya berkiat untuk menutupi religiositas penuh semu dan tak berjiwa.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel