Hakim Itu Bukan Mulut UU

Pendekatan pragmatis Breyer sebenarnya dekat dengan tradisi legal realism dalam hukum Amerika, yaitu pandangan bahwa hukum harus dipahami melalui akibat nyatanya, bukan hanya logika abstrak.

Kritik terhadap Polarisasi MA

Breyer juga menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya polarisasi ideologis di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia melihat bahwa perdebatan antara kubu konservatif dan progresif semakin tajam, terutama dalam isu-isu sensitif seperti aborsi, hak memilih, senjata api, agama, dan kekuasaan federal.

Dalam situasi seperti itu, Breyer khawatir Mahkamah Agung kehilangan citra sebagai lembaga netral. Ia percaya bahwa pendekatan pragmatis dapat menjadi jalan tengah yang lebih moderat dan lebih mampu menjaga legitimasi institusi peradilan.

Relevansi Buku

Walaupun buku ini berbicara tentang Konstitusi Amerika Serikat, gagasan Breyer sangat relevan bagi banyak negara demokrasi, termasuk negara-negara berkembang. Perdebatan antara penafsiran tekstual dan penafsiran progresif juga terjadi di banyak negara, terutama dalam isu hak asasi manusia, kekuasaan presiden, kebebasan sipil, peran militer, dan relasi antara hukum dan perubahan sosial.

Breyer mengingatkan bahwa hukum tidak boleh menjadi alat konservasi masa lalu semata. Konstitusi harus mampu menjawab kebutuhan generasi sekarang tanpa kehilangan prinsip dasarnya.

Dalam konteks global, pendekatan pragmatis Breyer mencerminkan pandangan bahwa demokrasi membutuhkan institusi yang fleksibel, adaptif, dan responsif terhadap perubahan zaman.

Secara keseluruhan, Reading the Constitution: Why I Chose Pragmatism, Not Textualism adalah pembelaan intelektual terhadap gagasan bahwa Konstitusi harus dibaca secara hidup dan kontekstual. Ini sering juga disebut the living constitution.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN