Hakim Itu Bukan Mulut UU

Ia memberikan contoh mengenai klausul perdagangan antarnegara bagian (Commerce Clause). Pada abad ke-18, perdagangan berarti aktivitas fisik sederhana. Namun di era modern, perdagangan mencakup jaringan ekonomi global, teknologi digital, dan transaksi elektronik. Jika hakim tetap memakai definisi lama secara kaku, maka negara akan kesulitan mengatur ekonomi modern.

Bagi Breyer, penafsiran hukum harus membantu negara menjalankan fungsi publik secara efektif, bukan justru melumpuhkan pemerintahan.

Demokrasi dan Partisipasi Publik

Breyer dalam buku ini berulang kali menekankan bahwa Konstitusi Amerika dirancang untuk mendorong partisipasi demokratis warga negara. Karena itu, hakim seharusnya menafsirkan hukum dengan cara yang memperkuat demokrasi, bukan mempersempitnya.

Dalam beberapa kasus pemilu dan hak suara, Breyer menunjukkan kekhawatirannya terhadap keputusan pengadilan yang menurutnya dapat melemahkan partisipasi rakyat. Ia percaya bahwa legitimasi Mahkamah Agung sangat bergantung pada kepercayaan publik. Jika pengadilan dianggap terlalu ideologis atau terlalu jauh dari realitas sosial, maka legitimasi demokrasi dapat runtuh.

Karena itu, Breyer menolak sikap yudisial yang terlalu dogmatis. Ia lebih memilih pendekatan moderat yang mempertimbangkan stabilitas sosial dan keberlangsungan institusi demokrasi.

Kaitan Hukum dan Politik

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah pengakuan Breyer bahwa hukum tidak pernah sepenuhnya terpisah dari politik. Namun ia juga menolak anggapan bahwa hakim hanyalah aktor politik berjubah hukum.

Menurutnya, tugas hakim adalah menjaga keseimbangan antara prinsip hukum dan kebutuhan praktis negara. Karena itu, hakim harus memahami bagaimana pemerintah bekerja, bagaimana kebijakan publik dijalankan, dan bagaimana keputusan hukum berdampak pada masyarakat luas.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN