Geotermal dan Narasi Menyebalkan (PLTP Ulumbu – Wewo dan Poco Leok)

Pengembangan geotermal kemudian diniscayakan menjadi jawaban atas tuntutan stabilitas energi. Dengan demikian, harta karun energi panas bumi Indonesia yang mencapai 23 gigawatt (GW) akan mencukupi kebutuhan energi negara. Untuk wilayah operasi PLTP Ulumbu, diketahui menyimpan cadangan energi yang diproyeksikan memenuhi kebutuhan energi listrik 3 kabupaten yakni Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Saat ini PLTP Ulumbu yang beroperasi di Desa Wewo menghasilkan energi listrik 10 MW dengan cadangan 30-40 MW. Sementara di kawasan Poco Leok cadangan energinya bisa sampai 100an MW dan direncanakan menghasilkan 40 MW terlebih dahulu.

Menolak Geotermal itu Hak! Tapi…

Meskipun geotermal itu harta karun kemajuan, tetapi tetap saja kerap melahirkan pro-kontra di tengah masyarakat. Wajar memang! Geotermal dapat dianggap sebagai sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran, narasi-narasi apa saja yang dibangun baik itu bersifat positif maupun negatif; cepat sekali ditanggapi masyarakat luas. Kenyataan ini tentu menjadi pekerjaan rumah BUMN khususnya PLN agar lebih masif menyebarkan pengetahuan dasar tentang geotermal.

Akibat narasi-narasi yang sengaja diinternalisasikan ke pikiran masyarakat terkait dampak buruk pembangunan geotermal maka kemudian lahirlah gejolak yang berujung pada penolakan geotermal. Misalkan saja di kawasan Poco Leok. Narasi-narasi yang terbangun di sana dalam menyuarakan penolakan terhadap pengembangan PLTP Ulumbu di antaranya: pertama, tanah ulayat. Kedua, akan menimbulkan bencana longsor. Mari kita ulas dengan pendekatan perbandingan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel