Literalisme adalah sebuah pemahaman yang dicapai lewat cara membaca teks-teks suci agama tanpa melihat konteks dan sejarah penulisan teks, melainkan berdasarkan makna harafiahnya. Apa yang tertulis dianggap sebagai maksud final yang tak boleh diperiksa. Cukup percaya dan ikut saja.
Lemahnya nalar menutup akses kepada kesadaran bahwa ada ayat-ayat suci agama yang ditulis ribuan tahun lalu tidak bisa diterapkan secara literer dalam konteks sebuah negara demokrasi saat ini. Ayat-ayat suci ini perlu diinterpretasi secara kritis, dan itu adalah tugas nalar.
Jadi, intoleransi dan ekstremisme ormas-ormas radikal menunjukkan bahwa agama mengalami degradasi rasionalitas. Sisi animal mendominasi sisi rationale.
Tindakan-tindakan brutal, anarkis dan intoleran oknum agama tertentu di ruang publik adalah presentasi dari nafsu rimba dan perver sebagaimana kita temukan pada binatang liar, di dalamnya pertimbangan-pertimbangan rasional, kebijaksanaan sebagai manusia yang tercerahkan, dan akal sehat bersama tidak terlibat. Agama minus nalar.
Melalui tulisan ini, saya menawarkan wacana penguatan nalar publik sebagai solusi persoalan tersebut. Penguatan nalar publik perlu karena adanya dua fakta yang tak terhindarkan dalam demokrasi di Indonesia yaitu ketaksepahaman dan kesalahpahaman.
Meski ketaksepahaman adalah signifier of democracy, di Indonesia ketaksepahaman justru sering diplintir sebagai kesalahpahaman. Mereka yang memiliki pemahaman berbeda mudah dianggap sebagai paham salah atau salah paham.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



