Cepat, Lugas dan Berimbang

Agama Minus Nalar

Dengan demikian, agama menjadi kontraproduktif: dibentuk oleh nalar namun menegasikan nalar itu sendiri. Ekstrimisme dan aksi-aksi intoleran ormas-ormas radikal yang memenuhi lanskap ruang publik Indonesia dewasa ini adalah produk cara beragama yang mempercundang nalar.

Kalau kosakata Habermas, filsuf politik Jerman, boleh saya pakai di sini, inilah ekses postsekularisasi yang meresahkan dan menakutkan ruang publik. Alih-alih mengatasnamakan moral goodness sebagai basis pra-politis, agama justru tampil sebagai setan yang mempersetankan demokrasi dan prinsip-prinsip ruang publik.

Sulit menerima bahwa intoleransi, penghujatan dan teror di ruang publik yang distimulasi wacana permurnian iman dan ketersobekan perasaan religius merupakan ekspresi keagamaan yang sah-sah saja. Akal sehat kita mudah menyimpulkan, ekspresi-ekspresi tersebut adalah bentuk penistaan sesungguhnya terhadap agama itu sendiri sebagai produk nalar dan pabrik nilai-nilai moral.

Akal sehat kita juga membantah bahwa kekerasan bisa menyeruak dari kesalehan. Orang yang saleh mustahil melakukan kekerasan. Pelaku kekerasan pastilah tidak saleh. Lalu, mengapa orang saleh melakukan kekerasan?

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada pertanyaan Hannah Arendt, filsuf perempuan Yahudi, tentang penjahat perang Nazi, Adolf Eichmann. Mengapa Eichmann yang tampak sebagai manusia biasa menjadi monster sadistis dalam pembasmian jutaan orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi Nazi?

Ada yang salah dengan kelompok-kelompok ekstrimis, ormas-ormas radikal maupun orang-orang yang ikut terseret dalam ideologi dan gerakan mereka. Saya menyebutnya krisis nalar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN