Arendt menamakan krisis nalar sebagai the banality of evil. Orang-orang yang saleh di ruang privat agama mudah menjadi pelaku kekerasan manakala tak memiliki daya pikir dan miskin imajinasi, yang berarti tidak mampu menempatkan diri pada posisi dan cara pandang orang lain. Boleh disangsikan bahwa mereka berpikir dengan logika yang sehat dan kritis.
Jika tidak lewat pola asuh sejak kecil, indoktrinasi dan provokasi telah menyebabkan orang-orang banal ini bertransformasi menjadi monster sadistis yang terobsesi pada perilaku-perilaku intoleran. Indoktrinasi itu dilakukan berulang-ulang di media sosial, di rumah-rumah ibadat dalam kotbah-kotbah para pemuka agama atau dalam percakapan sehari-hari.
Dengan mengulang-ulang hoaks bermuatan paham-paham radikal terbentuk komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. Marx menyebutnya kesadaran palsu. Habermas menyebutnya sistem-sistem kesalahpahaman.
Sebagaimana ahli propaganda Nazi, Paul Joseph Goebbels, dusta yang yang terus menerus diulang akan jadi kebenaran. Sebuah cacat logika yang disebut argumentum ad nauseam. Umat beragama yang dibelenggu sentimen religius minus nalar kritis mudah terperosok ke dalam cacat logika ini.
Nalar yang saya bicarakan di sini adalah nalar publik, akal sehat bersama. Menurut John Rawls, nalar publik adalah nalar yang terkait dengan keadilan dan HAM, atau secara etis, kebaikan bersama sebagai warga negara. Nalar ini tidak saja menggambarkan keharusan politis tapi juga keharusan epistemis untuk mengkritisi proposisi-proposisi doktrin komprehensif agama dari sudut pandang pihak lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



