Loyalitas primordial atau fanatisme mudah dimanfaatkan secara politis. Alhasil, tumbuh suburlah propaganda politik identitas dibarengi dengan meningkatknya reproduksi kelompok-kelompok pemuja ortodoksi agama yang dihiperbolisasi media sosial lewat distribusi hoaks secara masif.
Kode semiotik politik identitas itu ialah kita vs mereka. Kita saleh, mereka najis. Kita religius, mereka kafir. Atau, Kita normal, mereka devian. Agama kita benar, agama mereka salah. Identitas-identitas agama disabungkan satu sama lain demi tujuan politik.
Minus nalar menyeret umat beragama ke dalam jebakan permainan politik yang menyulut ekstrimisme dan aksi-aksi intoleran. Sebagaimana Habermas, penyalahgunaan fundamentalisme agama untuk kepentingan politik baik di Barat maupun di Timur tetaplah sesuatu yang mengerikan.
Di bawah pengaruh permainan politik, orang beragama mudah memelintir ketaksepahaman sebagai kesalahpahaman. Jalan menuju dialog jadi sempit. Daripada duduk bersama dan bertukar pikiran dalam suasana toleran dan saling memahami, mereka cenderung menempuh jalur kekerasan.
Kekerasan adalah sisi lain krisis (Minus) nalar. Kelompok-kelompok intoleran bukan hanya dalam Islam tapi juga dalam agama manapun mudah melakukan kekerasan dan teror manakala nalar publik gagal beroperasi.
Tambahan pula, ekstrimisme kelompok-kelompok intoleran ini sering mencari legitimasinya pada teks-teks suci agama. Tanpa penafsiran kritis, teks-teks itu dibaca sebagai sumber tekstual ekstrimisme dan intoleransi. Ini disebut literalisme.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



