(satu catatan lepas seadanya)
P. Kons Beo, SVD
Jika secara sepintas renungkan kematian tragis Yesus di salib, semula semuanya berawal dari satu episode kelam, yakni ‘persepakatan.’ Persekongkolan ‘suram dan seram’ itu bisa ditelisik dalam kisah-kisah Injil. Ambil saja tulisan Yohanes, Penginjil. Imam-imam kepala dan orang Farisi kumpul-kumpul di sentrum Pengadilan Agama. Dan di situ, nota kesepakatan gelap dirancang:
“Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Dan apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya….” (Yohanes 11:47-48). Dan pada konklusinya, tercatat, “Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Yesus” (Yohanes 11:53).
Konspirasi rapih untuk ‘hentikan Yesus’ mesti segera dilaksanakan. Tentu dengan modus ‘tipu muslihat yang tertata’ (cf Markus 14:1). Dan ini semua diandaikan saja bermula dari distorsi psikologis yang tampak dalam kecemasan, ketakutan, ketaktenangan yang terbungkus dalam irihati yang menebal terhadap Yesus.
Para elitis ‘partai dan golongan’ di Yerusalem sekian tak nyaman akan aura Yesus yang semakin memikat, penuh simpatik tak terbendung. Andaikan saja pula bahwa sekiranya dibikin ‘survey kepuasan khalayak’ akan citra dan sikap – tindakan Yesus? Tidak kah Ia bisa meraih titik tertinggi prosentase kepuasan sosial yang massif dan melambung? Dan selanjutnya?
Jangan-jangan Yesus akan diangkat jadi raja. Didaulat sebagai pemimpin, pun bahwa Ia masih punya pengaruh pada ‘kepemimpinan di Yerusalem’ selanjutnya? Popularitas Yesus demi ‘Yerusalem dan Israel baru’ sungguh jadi tantangan dan gangguan yang mesti dibereskan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




