Cepat, Lugas dan Berimbang

Di Balik Persekongkolan Itu…

Maka di titik ini, keteduhan sikap mesti jadi satu pilihan cerdas. Tak termakan umpan untuk sebuah risiko kegaduhan apalagi merusakkan. Tidak kah sebenarnya dapat ‘terbaca jelas meski samar’ siapakah sebenarnya di balik semua persekongkolan jahat yang hendak merusakkan dan bikin kelam suasana? Yang cemarkan rasa damai dan alam demokrasi Negeri?

Di hari-hari ini para perancang persekongkolan, para bohir lagi menanti suasana asap, bara api panas membara. Dan mereka lalu ingin tampil sebagai penyelamat murah meriah bagi negeri.

Akhirnya, Tanah Air memang mesti cerdas dan bijak dalam pilihan dan sikap politik.

Mari kembali pada kisah Yesus dari Nazareth. Saat hari kematianNya, Kepala Pasukan dan para prajuritnya menjadi sangat takut oleh gempa bumi dan apa yang telah terjadi. Dan mereka mesti bersaksi, “Sungguh, Ia adalah Anak Allah” (Matius 27:54).

Indonesia belum terlambat. Indonesia, bagaimanapun, harus tetap dipimpin oleh pemimpin yang lahir dari identitas, keluhuran martabat bangsa dan tanah air yang bercitra.

Dan bukannya dinahkodai oleh pemimpin dan kepemimpinan yang lahir dari balik persekongkolan eksklusif, yang diborgol oleh politik identitas, yang hanya akan mengakali negeri demi mengusung kepentingan sendiri. Ini yang sungguh patut diwaspadai…

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro – Roma

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN