Cepat, Lugas dan Berimbang

Di Balik Persekongkolan Itu…

Maka, dan bukan tak mungkin bahwa kaum elitis Yerusalem tak ingin terganggu dalam kepentingan mereka yang sekular – jasmani dan fana, walau ‘dibungkus-bungkus’ dalam citra spiritual dan jubah agamis serta demi bangsa. Sebab kata mereka, “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita”  (Yohanes 11:48).

Tetapi apakah aura kepuasan khalayak tetap bertahan hingga momentum krusial pada penetapan Yesus sebagai terpidana mati oleh Pilatus? Nyatanya tidak! Tidakkah teriakan masa berhasil ciutkan nyali Pilatus? “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia” (Yohanes 19:6) dan “Jika engkau membebaskan Dia, engkau bukan sahabat kaiser” (Yohanes 19:12) sudah cukup memborgol hati dan pikiran Pilatus. Dan  Pilatus pun harus berkeputusan tak adil dan keji terhadap Yesus.

Patut diduga bahwa para elitis Yerusalem telah bertindak gesit dan penuh kelicikan sebagai bohir demi ‘mendanai aksi premanisme pengadilan terhadap Yesus.’ Dan memang semuanya bermuara pada palu Pilatus ketika, “Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yohanes 19:16a).

Adakah satu suasana khaos lahir dari ‘begitu saja, singkat, tiba-tiba atau mendadak?’ Dalam alam kompetitif yang liar dan tak terkendali, potensi untuk situasi suram tentu segera diubah jadi kisah tragis penuh kegetiran.

Kuasa, pangkat, kedudukan atau jabatan telah jadi ‘entitas yang rentan untuk keretakan dan perpecahan.’ Di balik semuanya terdapat kepentingan yang harus dijaga atau diperjuangkan. Tak ada yang sanggup membantah bahwa kompetisi atau persaingan itu membawa kemajuan hidup dan perubahan. Namun kompetisi tanpa pengakuan adalah satu kekejian.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN