Saulus, Saudaraku…

Terlalu lemah kekuatan hati kita untuk mengubah cara pandang kita yang suram terhadap sesama. Sebab, kita mudah sekali untuk melekat pada isi tembang “Biarlah yang hitam menjadi hitam. Jangan harapkan jadi putih…” Sungguh, kita mesti merindukan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita. Roh Kudus yang memperbaharui dunia luar dan dunia batin diri sendiri.

“Dan sanggup kah Anda untuk menuntun kembali saudaramu yang tak disukai, dibenci, yang menakutkan, yang telah bikin ‘makan hati,’ yang sudah cemar dan tak sedap nama baiknya, yang selalu bikin onar dan eror, yang punya litania panjang dari segala hal yang merugikan….?”

“Jalan, kebenaran dan hidup Tuhan” (cf Yoh 14:6) telah jalan-kebenaran-dan hidup Ananias. Dan, karena itulah, pada momentum penuh rahmat itu, Ananias disanggupkan untuk berseru dengan sapan penuh kasih:

“Saulus, Saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat kembali dan penuh dengan Roh Kudus”
(Kis 9:17)

Anda orang baik, orang benar, orang saleh, orang yang hidup lurus dan tak cemar! Tinggal saja Anda mendengarkan kembali suara Tuhan yang berseru kepada Ananias itu. Dan Anda disanggupkan untuk mendekatkan diri pada sesama yang tak sedap hidupnya dan ‘tak sedang bae-bae saja,’ agar “sesama dapat melihat kembali dan penuh dengan Roh Kudus…”

Jika tidak demikian, kita hanya berputar-putar pada retorika dan narasi usang. Yang itu-itu saja. Yang jadi andalan cerita suram kita. Mari kita pergi “ke Jalan yang bernama Jalan Lurus” untuk berani menyapa saudara-saudari kita semuanya. Dengan sebuah hati nan tulus, ikhlas dan gembira. Sebab, kita semua adalah saudara-saudari dalam kelana hidup ini.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel