Pertobatan Saulus menuju Paulus, kiranya tidaklah jadi satu kisah lurus dan tunggal. Yang hanya menyangkut jalan batin Saulus itu. Tidak! Sebab, Ananias pun mesti bertarung dalam rasa cemas penuh kepikiran untuk juga mesti berubah.
Ananias, kini, tidak boleh terpaku pada telinga yang mendengar kisah lama penuh suram tentang Saulus. Namun, ia kini harus dengan rendah hati mendengarkan suara Tuhan. Dan suara Tuhan itu, baginya, sepantasnya jadi awal baru dalam memandang dan menilai.
Di hidup ini, siapa pun kita tak pernah surut dalam satu pertarung batin. Antara apa yang kita dengar, apa yang kita rekam, dan terolah jadi satu sikap dan penilaian secara manusiawi dan kini mesti berhadapan dengan Yesus, Tuhan yang kita imani dalam kuasa KasihNya.
Kisah pertarungan batin Ananias bisa menjadi gambaran pergulatan batin siapapun. Menyembah Yesus sebagai ‘Sumber Kasih yang mengubah’ terkadang tak semudah seperti yang dikotbahkan sebagai animasi spiritual. Apakah kita bertahan dalam daraskan iman akan Kasih Tuhan, dengan sebuah cara pandang dan isi menilai ‘yang itu-itu saja dan lama?’
Sebab, kita bisa bertahan pada nyanyian iman ‘Yang lama, yang tidak diganti serta tidak diperbaharui…’ Satu tesis iman praktis individualistik yang sungguh tak menolong budi. Dalam memandang dunia dan sesama dalam kacamata dan sudut tilik yang baru.
Ananias mesti dibimbing Tuhan, agar ia pun miliki keberanian di hati dan di jiwa untuk ‘dekati manusia pedang kekerasan, si Saulus itu.’ Itulah yang jadi inspirasi dasar bagi kerapuhan jiwa, hati dan mental kita. Untuk dinutrisi dari kekuatan dan kebesaran daya kasih Tuhan sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



