Praktik di atas berlawanan dengan pandangan bercorak progresif, yang mengutamakan perkembangan pribadi individu. Seperti perspektifnya Jean Jacques Rousseau (1712-1778).
Rousseau menyatakan bahwa perspektif pranata sosial lainnya, harus menyelaraskan pendidikan dengan tujuan bagi pemekaran aneka naluri dan dorongan bawaan individu.
Bertolak dari asumsi bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik, maka tujuan pendidikan tidak lain dari menolong peserta didik untuk mengekspresikan diri, mengaktualisasikan kemampuan secara spontan dan bebas, sehingga mampu melakukan rekonstruksi sosial ke arah terciptanya masyarakat kosmopolitan yang lebih progresif, masyarakat global yang melampaui batas-batas nasionalisme apalagi patriotisme sempit.
Diskursus ketiga menyangkut tujuan pendidikan bersumber pada tegangan antara pendidikan untuk mengembangkan kemampuan mental atau untuk menguasai isi pengetahuan dan keterampilan siap pakai.
Menurut pandangan pertama, pendidikan mengutamakan pemekaran kompetensi seperti berpikir kritis, memecahkan persoalan, serta pemahaman yang nalitis. Sementara pandangan lain menekankan bahwa pendidikan harus menitikberatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan praktis, untuk menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja.
Pendidikan, Antara Abdi atau Kritikus Masyarakat
Pandangan terakhir perlu kritisi karena mereduksi pendidikan sebagai subsistem yang mengabdi kepada kepentingan industri dan perdagangan belaka.
Padahal, lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi bukan hanya abdi masyarakat, tetapi juga kritikus masyarakat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





