Cepat, Lugas dan Berimbang

Satu Sisi Dunia Pendidikan

Dunia Pendidikan
Bernardus T. Beding, Dosen pada UNIKA Santu Paulus Ruteng

Secara historis, dunia pendidikan telah dimanipulasi penguasa untuk melegitimasi kemampuan mereka, sehingga tidak mustahil muculnya wacana bahwa pendidikan kita relatif tidak berdaya dan berjalan di luar hakikat yang sebenarnya.

Filsafat Pendidikan Indonesia

Kita tidak mempunyai filsafat pendidikan yang jelas. Untuk apa pendidikan kita selenggarakan? Ini yang membuat kerancuan dalam kurikulum dan sisitem pendidikan yang dijalankan.

Tujuan pendidikan kita semakin kabur dengan pemakaian istilah Sumber Daya Manusia (SDM) dan demi pembangunan. Seakan-akan manusia disamakan begitu saja dengan minyak atau batu bara sebagai sumber daya. Pembangunan tidak lagi untuk manusia, tetapi sebaliknya. 

Jika demikian situasinya, lantas apa yang kita harapkan dari lembaga pendidikan? Atau, apakah yang bisa diupayakan  untuk mengembalikan pendidikan kita pada tujuan dan fungsi yang sebenarnya? Itulah pertanyaan yang kerap masyarakat lontarkan akhir-akhir ini.

Secara makro, perdebatan mengenai tujuan pendidikan berkisar di antara tiga macam tegangan, yakni (a) pendidikan untuk transmisi sosial atau untuk transformasi sosial, (b) pendidikan untuk membina kehidupan bersama atau untuk perkembangan individu secara optimal, dan (c) pendidikan untuk meningkatkan berbagai kemampuan mental (mental faculties) atau untuk menguasai aneka isi pengetahuan dan keterampilan yang siap pakai.

Barangkali dari titik tolak ini memungkinkan kita untuk menyelami esensi pendidikan sesungguhnya. 

Sampai batas tertentu, pendidikan memang berwajah konservatif. Hal ini berarti pendidikan bertujuan mempertahankan dan melestarikan kebudayaan masyarakat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN